Permainan Anak Tahun 90an yang Tidak Dimainkan Anak Milenial

0
7
permainan anak petak umpet

Siapa sih yang tidak kangen masa kanak-kanak? Semua terasa cerita, bahagia, dan tidak ada sakit. Kalaupun jatuh yang berdarah hanya kaki atau tangan, hati tidak bernah merasakan. Kegiatan anak-anak memang cukup mengasyikkan. Dimulai dari bangun tidur, sarapan, mandi, sekolah dan bermain sampai larut sore. Kemudian mandi dan istirahat hingga menjelang pagi lagi. Begitu terus dilakukan sampai tak terasa hari-semakin hari usia bertumbuh kembang juga. Jika kita lahir di tahun 90an, pasti kehidupan kita kaya akan permainan. Dan sayangnya, permainan tersebut sekarang sudah jarang sekali ditemukan oleh anak-anak. Mungkin karena pengaruh gadged, sehingga menjadikan permainan anak-anak dahulu hilang. Adapun permainan tersebut yakni:

1. Petak Umpet

Petak umpet adalah permainan yang bisa dikerjakan siapa saja, tidak harus laki-laki atau perempuan. Semuanya yang ingin, boleh saja mengikutinya. Biasanya petak umpet dimainkan oleh mereka berjumlah 5-10 orang. Sebab jika terlalu sedikit kurang asyik dan jika terlalu banyak akan kasihan yang tugasnya mencari. Pada tahun 1990an, petak umpet menjadi permainan idola anak-anak. Nilai estetis dari petak umpet adalah segala sesuatu yang hilang harus dicari terlebih dahulu. Kita mencari hingga ketemu. Kita tidak boleh mengabaikan begitu saja. Hal ini merupakan pesan moral bagi kehidupan bersosial di masyarakat. Sehingga anak pun memiliki jiwa tanggung jawab yang tinggi.

2. Kasti

main kasti

Kasti adalah permainan dan olahraga yang zaman 1990an banyak dimainkan oleh perempuan. Kasti terdiri dari dua grup. Grup pertama sebagai pengisi pos dan grup kedua sebagai penjaga bola. Barangsiapa yang menjaga pos berlarian mengisi pos lainnya, dan salah seorang grup terhantam bola yang telah dilempar, maka semua temannya akan bergantian penjaga bola. Begitu seterusnya hingga poin dapat mereka kumpulkan secara maksimal. Dalam kehidupan sehari-hari, kasti juga memiliki pesan moral di antaranya yakni saling berkolaborasi dalam bermasyarakat. Kita dalam menjalani hidup pasti ada lawan kan kawan. Dengan lawan, maka kita akan semakin erat terhadap kawan. Dan dengan kawan, kita tidak akan sendirian. Semuanya bersinergi dan memiliki nilai positif masing-masing.

3. Sepak Bola di Sawah

main sepak bola di sawah

Hal semacam inilah yang tidak dirasakan anak-anak zaman sekarang. Pada zaman 1990an, anak-anak dengan senang hati bermain sepak bola di sawah. Dengan gawang berbahan dari pohon bambu, mereka tampak menikmati permainan sepak bola. Mengapa tidak memainkan bola di lapangan saja? Sebab zaman dahulu lapangan hanya miliki orang-orang yang sudah dewasa dan mampu memainkan bola secara apik. Sedangkan anak-anak kecil dan belum mahir menguasai bola harus mengalah terlebih dahulu untuk bermain di sawah. Permainan sepak bola bertambah seru ketika ujan turun. Walaupun becek dan ketambahan gelak marah ibu, tetapi kita semua tetap bermain sepak bola.

4. Wayangan

main wayangan

Wayangan di sini bukan seperti yang ada dalangnya tersebut. Tapi hanya berwujud kertas ada gambarnya. Dulu di tahun 1900an, hal tersebut sangat disenangi anak-anak. Hingga direlakan beli korek api yang dari kayu dan di bekalang box ada gambarnya, mereka rela menggunting untuk dijadikan koleksi. Wayangan dilakukan anak-anak seperti bermain kartu remi. Ada yang menjadi Bandar kemudian ada peserta. Walaupun begitu tapi tidak serta merta mengarah ke keburukan, tapi hanya sekedar permainan saja. Bahkan jika sekarang  dilihat, pasti wayang-wayang tersebut sudah tidak berguna lagi, bahkan ada yang dimakan serangga karena bahannya dari kertas.

5. Kelereng

permainan anak kelereng

Bermain klereng bukan hanya sekedar hiburan saja, akan tetapi melatih seseorang untuk pandai menembak jarak jauh. Maaf, menembak maksudnya di sini bukan mengutarakan isi hati kepada cewek, tapi mengincar kelereng dan mengenai sasaran yang dituju. Hal positif yang didapatkan seorang anak ketika bermain klereng adalah dia akan tangkas dalam mengintai lawan. Misal kelak menjadi polisi atau tentara, dalam urusan menembak dia adalah jagonya. Tapi sayang, permainan ini dan sejenisnya sudah mulai hilang dimakan usia. Permainan tradisional sudah tidak mendapatkan ruang lagi dikehidupan anak-anak zaman sekarang. Sedangkan kita yang terlahir di tahun 1990an, hanya bisa menostalgia sembari bercerita kepada adik-adik sekarang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here