Keunikan Sedekah Laut di Juwana, Pati, Jawa Tengah

0
27
sedekah laut

Juwana kota kecil di kabupaten Pati yang memiliki daya estetika tinggi. Juwawa tentu tidak bisa dipisahkan dari budaya pantura. Letaknya yang strategis menjadikan perekonomian semakin maju. Pelabuhan Juwana menjadi pusat bagi mereka berbisnis dan bernelayan. Di sana setiap hari terjadi negosiasi antara pembeli ikan dan penjual. Hal menyenangkan selain itu adalah ikan masih segar. Ketika di bawa pulang tidak takut basi.

Selain di pelabuhan, Juwana memiliki moment terkenal setiap tahun. Tepat 7 Syawal, masyarakat Juwana mengadakan pesta sekaligus selametan yang dicakup dalam acara sedekah laut. Sedekah laut merupakan tradisi masyarakat Jawa bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas nikmat yang telah diberikan setiap waktu.

Sedekah laut dilaksanakan bagi mereka yang bermata pencarian di daerah pesisir (tani garam, nelayan, budidaya laut), sedangkan sedekah bumi dilaksanakan bagi mereka yang bermata pencarian di bumi (tani padi, budidaya ikan tawar, dan wirausaha, ternak sapi).

Di Kabupaten Pati, sedekah laut lebih terkenal dibandingkan dengan sedekah bumi. Penyebab utama adalah penghasilan masyarakat nelayan lebih besar daripada petani padi. Sehingga ketika sedekah laut, masyarakat tidak tanggung-tanggung berpesta. Seraya hasil kerja selama setahun terhabiskan saat sedekah laut.

Pasalnya acara sedekah laut dilaksanakan selama seminggu penuh. Berbagai hiburan mulai tayub, ketoprak, wayang, campursari, dangdut, pengajian, perlombaan hingga kirab tertuang semuanya. Antusias masyarakat juga cukup besar. Mereka merelakan segala aktivitas selama seminggu demi menyambut sedekah laut tersebut.

Apa sih keunikan sedekah laut di Juwana? Sebenarnya banyak tetapi gali satu lingkup saja yang mengena dalam prosesi sedekah laut. Diawali dari iuran, masyarakat yang memiliki kapal dan karyawan banyak akan memberikan sumbangsih besar. Semakin besar sumbangan, maka banyak masyarakat mengapresiasi. Nama orang tersebut akan terkenal sedesa.

Terlebih dia menyumbang paling tinggi, maka banyak orang-orang memuji. Tetapi, di saat ada juragan hanya mengeluarkan sumbangan sedikit, dari masyarakat akan menanting dengan membandingkan juragan lainnya. Dengan begitu jiwa ke-aku-an mulai muncul. Jika ingin diapresiasi di masyarakat, tentu harus merogoh saku lebih dalam. Toh acara untuk umat, bukan personal. Dari sini panitia mampu mendapatkan uang banyak untuk memaksimalkan acara.

Selanjutnya tradisi melarung kepala kerbau. Ada dua hingga kerbau disembelih. Daging dimakan bersama-sama masyarakat desa. dibagi secara adil, yang kaya dan miskin mendapatkan sama. Selebihnya kepala kerbau dibiarkan utuh. Kemudian di ikat bersama bothek (kapal berukuran kecil) dan diarah ke tengah laut.

Sebelum dilarung, sesepuh desa atau modin memimpin do’a di dasar pandai dan diikuti masyarakat sedesa. Setelah berdo’a, kapal kecil membawa kepala laut tersebut seiring lambaian ombak akan menghilang di arah mata memandang. Dari masyarakat Juwana menyakini setiap tempat ada penunghuninya, tidak terkecuali laut.

Hamparan membentang luas sudah pasti dihuni ribuan makhluk halus. Dari makhluk itu tentu ada raja yang memimpin. Dan inilah wujud dedikasi dari masyarakat Juwana berterimakasih kepada penunggu laut. Berprofesi sebagai nelayan cukup beresiko. Gelombang pasang, dingin, ombak tak terduga, panas, angin kencang sudah menjadi teman ketika berlayar.

Tetapi saat penunggu laut sudah mengizinkan, semoga masyarakat selalu diberi selamat oleh Tuhan Yang Maha Esa. Tetapi semua itu dikembalikan ke Yang Kuasa. Sebab, semua makhluk hidup diciptakan memiliki tempat masing-masing oleh Allah. Manusia dan jin tetapi beda dunia. Manusia berada di dunia nyata sedangkan jin berada di dunia gaib. Yang jelas semuanya ditujukan untuk kemaslahatan bersama. Manusia menghargai jin dan jin menghargai manusia.

Tinggalkan Balasan