Biografi Singkat Jendral Sudirman

0
16
jendral sudirman

Biografi Jendral Sudirman banyak muncul dalam buku-buku pelajaran sejarah. Karena betapa pentingnya mengenal sosok pejuang NKRI ini. Sudirman merupakan panglima besar Tentara Nasional Indonesia pertama yang sangat dihormati di sepanjang sejarah Indonesia. Dia berperan penting dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan

Jasa-jasa besar pahlawan nasional ini selalu dikenang. Berkat beliau, Indonesia bisa meraih kedaulatan dan kemerdekaan hingga saat ini. Kisah hidup serta perjuangannya bisa dilihat melalui biografi Sudirman untuk diteladani. Biografi singkat Sudirman akan menjadi inspirasi bagi para generasi muda.

Kelahiran, Keluarga dan Pendidikan Jendral Sudirman

Sudirman (Soedirman) lahir di Purbalingga, Jawa Tengah pada 24 Januari 1916. Ayahnya seorang pekerja pabrik gula Kalibagor Banyumas, bernama KarsidKartawiraja.  Sedangkan ibunya bernama Siyem, seorang keturunan Wedana Rembang. Sejak kecil Sudirman diasuh oleh Raden Cokrosunaryo yang merupakan seorang camat. Hingga usianya 18 tahun, Sudirman tidak diberitahu bahwa Cokrosunaryo bukanlah ayah kandungnya.

Ketika usia tujuh tahun, Sudirman bersekolah di sekolah pribumi (hollands chin lands cheschool). Pada tahun ketujuh, Sudirman dipindahkan ke sekolah menengah milik Taman Siswa. Setelah sekolah Taman Siswa ditutup karena diketahui tidak terdaftar, Sudirman pindah ke Sekolah Menengah Wirotomo. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan ke HIK, sekolah guru Muhammadiyah, Solo namun tidak sampai tamat.

Masa Penjajahan Jepang

Sudirman kembali ke Cilacap pada 1936 untuk mengajar di sebuah sekolah dasar Muhammadiyah. Ia mengabdikan dirinya sebagai guru HIS Muhammadiyah dan pemandu organisasi Pramuka Hizbul Wathan. Sudirman sangat disegani masyarakat.

Pada tahun 1944, saat penjajahan Jepang, Sudirman tergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor. Sudirman diangkat sebagai komandan dan dilatih bersama orang-orang dengan pangkat yang sama. Menjelang Indonesia merdeka dari jajahan Jepang, Sudirman berhasil merebut senjata milik pasukan Jepang di Banyumas. Kemudian, setelah menyelesaikan pendidikan, beliau pun diangkat sebagai Komandan Batalyon di Kroya.

Pada 1945 setelah Indonesia mengikrarkan proklamasi, Sudirman melarikan diri ke Jakarta untuk menemui Soekarno. Kemudian beliau ditugaskan Soekarno untuk mengawasi proses penyerahan diri tentara Jepang setelah mendirikan divisi lokal Badan Keamanan Rakyat (TKR). Lalu ia pun menjadi panglima Divisi V Banyumas sesudah TKR.

Pada akhir November 1945 Sudirman memerintah Divisi V menyerang pasukan sekutu di Ambarawa. Perang Palagan Ambarawa melawan pasukan Inggris dan NICA Belanda merupakan perang besar pertama yang dia pimpin. Setelah Sudirman berhasil memenangkan pertempuran tersebut, Presiden Soekarno kemudian melantiknya sebagai Jendral. Sudirman resmi menjadi panglima besar TKR pada 18 Desember 1945.

Agresi Militer II dan Griliya

Selang tiga tahun kemudian, Jendral Sudirman menjadi saksi kegagalan negoisasi Perjanjian Linggarjati dan Perjanjian Renville dengan tentara kolonial Belanda. Saat itu Belanda ingin kembali menjajah Indonesia. Pada tahun 1948, Sudirman juga menghadapi tahta kepemimpinan.

Sudirman turun melakukan perlawanan terhadap Agresi Militer II Belanda di Yogyakarta pada Desember 1948. Kemudian, Sudirman melakukan perjalanan ke arah Selatan beserta sekelompok kecil tentara beserta dokter pribadinya untuk memulai perlawanan geriliya selama 7 bulan. Sehingga pada akhirnya Belanda mulai menarik diri.

Akhir Hidup Jendral Sudirman

Terjadinya pemberontakan di Madiun dan ketidakstabilan politik membuat lemah kondisi kesehatan Sudirman. Sudirman didiagnosis mengidap tuberkulosis (TBC) dan paru-paru kanannya dikempeskan karena telah mengalami infeksi. Di tengah perjuangannya melawan TBC, pemerintah Indonesia dan Belanda mengadakan konferensi panjang selama beberapa bulan. Hingga pada 27 Desember 1949, Indonesia mendapatkan pengakuan dari Belanda atas kedaulatannya.

Sekalipun Sudirman sedang sakit, saat itu juga ia diangkat sebagai panglima besar TNI di negara baru, yaitu Republik Indonesia Serikat. Sebulan setelahnya, Jendral Sudirman pun wafat, tepatnya pada 29 Januari 1950 di Magelang, Jawa Tengah. Beliau pun dimakamkan di Masjid Gedhe Kauman.

Demikianlah biografi singkat mengenai Jendral Sudirman. Tekad dan keberanian beliau dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia patut dicontoh oleh para generasi muda. Dengan demikian Indonesia tidak akan pernah kehilangan sosok Sudirman yang tumbuh dalam jiwa pemuda Indonesia.

Tinggalkan Balasan