Tradisi Tayub di Desa Sidoluhur Pati

1
9
tradisi tayub pati

Di pesisir Jawa Tengah kota Pati terdapat tradisi yang cukup lestari sampai sekarang. Walaupun tidak seaktif  tahun 1900an, tapi tradisi ini minimal setahun sekali tampil dalam acara sedekah bumi. Di desa Sidoluhur, kabupaten Pati, tradisi tayub selalu mewarnai acara pestanya para  petani.

Para sesepuh mengartikan nama Tayub sebagai ditato ben guyub (diatur agar tercipta kerukunan), sebuah filosofi yang ditanamkan pada Tayub sebagai kesenian untuk pergaulan. Nilai dasamya adalah kesamaan kepentingan untuk mengapresiasikan kemampuan jiwa dan bakat seni, baik kemampuan sebagai penabuh gamelan (pengrawit) ataupun penarinya. Kesamaan kepentingan ini akan melahirkan keselaras‑serasian Tayub sebagai suatu bentuk tarian, hentakan kaki yang sesuai dengan bunyi kendang lambaian‑tangan seirama gambang atau lenggok kepala pada tiap pukulan gongnya.

Tradisi Jawa

Tayub merupakan salah satu tradisi kesenian di Jawa yang mengandung unsur keindahan, spiritual dan keserasian gerak. Unsur keindahan diikuti dengan kemampuan penari dalam melakonkan tari yang dibawakan. Unsur spiritual dipercaya setiap orang laki-laki yang berani mbeso (menari), dipercaya akan awet muda. Mungkin terlihat mudah, tetapi ketika di praktikkan cukup sulit. Setiap musik ada tempo masing-masing, terkadang hal sulit saat mensinkronkan liukan tangan dengan nada tersebut. Dan kesenian gerak yaitu terlihat saat penari perempuan sangat canggih dalam meliak-liukkan tangan serta suaranya yang khas budaya Jawa.

Kesenian tari Tayub adalah seni pertunjukan yang dianggap sebagai kesenian rakyat yang muncul pertama kali pada jaman kerajaan Singosari, namun seiring perjalanan waktu, seni pertunjukan tayub sering mengalami pasang surut sesuai dengan zaman. Kalau dulu tari tayub sering kita jumpai di acara sunatan, pernikahan, syukuran tapi sekarang kesenian Tayub lebih banyak dijumpai di acara sedekah bumi. Kesenian Tayub ini merupakan bentuk tari pergaulan berpasangan antara penari wanita ( ledhek ) dengan penari pria (penayub).

Pada jaman dahulu tari Tayub masih bersifat sakaral tapi seiring dengan berjalannya waktu dan bergesernya zaman fungsi tari tayub menjadi sebuah tarian hiburan yang bersifat sekuler. Fungsi sakral atau Religius dari tari tayub dapat dilacak pada fungsi asli tayub sebagai upacara ritual untuk kesuburan.

Prosesi Tayub

Pada tahun 1990an, mementaskan Tayub harus melewati beberapa prosedur terlebih dahulu. Mulai tanggal dan tempat harus sesuai dengan itungan Jawa. Biasanya yang punya kepentingan ingin menghadirkan tarian Tayub harus datang ke orang pintar (sesepuh yang dianggap memiliki ilmu spiritual) dan meminta untuk dicarikan waktu yang  tepat. Harapan ini supaya ketika acara berlangsung dapat berjalan dengan lancar. Sebagaimana di desa Sidoluhur Kecamatan Jaken Kabupaten Pati Jawa Tengah, Tayub tersebut pentas pada hari Jum’at legi. Alasan pemilihan waktu ini disesuaikan penempatan yang sebelumnya. Selain itu menyinkronkan permintaan Danyang yang tinggal di punden.

Tempat pelaksanaan Tayub biasanya di punden. Di mulai jam setengah dua siang sampai jam setengah lima. Dan diteruskan pada malam hari mulai pukul sebelas malam hingga pukul tiga. Tapi biasanya tergantung para lelaki yang mberso (menari). Di saat para laki-laki sudah merasakan mbeso, terkadang sudah mulai lelah dan saat itu pula Tayub di akhiri dengan lagu pamungkasan. Seperti itulah skenario tradisi tari Tayub yang ada di daerah Pati.

Namun pada era-era ini kesenian tayub mulai meredup,  redupnya tayub bisa didekati dari ketiadaan upaya pelestarian seni budaya lokal. Masuknya kebudayaan-kebudayaan barat sedikit banyak membuat tradisi seni tayub menjadi redup.  Tantangan yang perlu dihadapi tidaklah ringan karena harus dihadapkan oleh persaingan budaya modern serta ekspansi budaya barat. Terlebih di era sekarang, banyak generasi milenial mengacuhkan budaya lokal. Padahal jika kita tahu, budaya seperti tari, ketoprak, barongan, tayub, wayang dan lain sebagainya merupakan kekayaan Nusantara yang tidak dimiliki oleh negara lain. Betapa meruginya bangsa ini ketika tradisi lokal lambat laun hilang termakan oleh zaman.

1 KOMENTAR

  1. […] Tayub masuk kategori tari. Tayub tumbuh dan berkembang di daerah Pantura Jawa Tengah, lebih tepatnya di daerah Pati, Rembang, Blora, Kudus dan lain sebagainya. Dahulu, keberadaan Tayub sangat terkenal. Masyarakat memiliki moment tersendiri untuk menghadirkan tradisi tersebut, semisal dalam rangka khitan, nikah, slametan, pesta rakyat dan lain sebagainya. Dan pelaku Tayub sendiri mencitakan sanggar yang mendatangkan banyak generasi muda agar tetap berkembang. Tetapi, seiring berkembangnya zaman, Tayub sudah mulai asing dalam sekitar daerah tersebut. Yang menjadi alasan pertama adalah kesadaran masyarakat sudah mulai berkurang. […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here