Filosofi Seloso Wage di Jogja

0
59
jogja

Di Jogja ada yang berbeda hari Seloso Wage. Pasalnya hari tersebut menjadikan jalan Malioboro layaknya kota mati, tidak ada kendaraan becak, andong, mobil, motor, dan lain sebagainya. Bahkan pendagang kaki lima yang biasa berjejer mengisi pinggiran jalan Malioboro pun tidak akan ditemui ketika Selasa Wage. Ternyata setelah ditelisik lebih dalam, Selasa Wage memiliki filosofi tersendiri bagi masyarakat Jogja.

Selasa Wage merupakan weton atau pasaran lahirnya Hamengku Buwono ke-X.  Dalam tafsir Jawa, hari Selasa dimaknai dengan selone menungso (senggangnya manusia). Dari konteks ini, para penduduk yang tinggal di sepanjang jalan Malioboro memiliki kesepakatan bersama untuk menciptakan ketenangan. Selain itu, dari mereka telah sepakat Selasa Wage menjadi moment bersama-sama membersihkan jalan Malioboro agar tetap nyaman dinikmati oleh siapapun.

Asal Mula

Sebenarnya budaya ini sudah dimulai pada tahun 2017, tetapi di tahun 2019 baru tenar. Setiap hari Selasa Wage, seluruh pedagang kaki lima bergotong royong membersihkan sepanjang jalan Malioboro. Mereka bersepakat meliburkan diri dengan berbagai alasan, pertama memperingati hari lahirnya Hamengku Buwono X; kedua, menciptakan keadaan di jalan Maliboro agar dinikmati oleh siapapun tanpa gangguan kendaraan; ketiga, meliburkan diri bahwa hidup tidak harus bekerja terus, ada waktunya memberi kesempatan kepada seluruh pendagang kaki lima untuk libur bersama-sama.

Walaupun begitu, Hamengku Buwono ke-X tetap memberi kesempatan kepada pendagang makanan dan minuman berjualan di pertigaan jalan Malioboro, seperti yang terdapat di gang selatan pasar Bringharjo, gang masuk pasar Sore dan gang setelah gedung Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. Alasannya, masyarakat yang menikmati jalan Malioboro ketika haus atau lapar ada penjual yang menyediakan. Ini merupakan bentuk toleransi yang selalu digalakkan Keraton Yogyakarta, selain itu langkah ini memiliki unsur simbiosis mutualisme.  

Sekarang setiap hari Selasa Wage di Jogja semakin terkenal. Banyak dari kalangan komunitas sepedah ontel, komunitas musik, komunitas seni, komunitas pencinta hewan dan komunitas lainnya menyambut hari istimewa tersebut berlalu-lalang di tengah-tengah jalan Malioboro. Mereka mengekspresikan diri menciptakan suasana Jogja semakin syahdu. Bernyanyi berjoget ria di tengah jalan tanpa takut ada kendaraan lewat.

Ada juga yang membawa tenda dan kompor portable dipasang di tengah jalan kemudian foto. Hal ini sempat viral di Instagram. Ada juga yang jogging pagi membawa binatang piaraan kambing dan angsanya. Selain itu, depan Monumen 11 Maret dekat titik nol kilometer Jogja terdapat pentas budaya semalam suntuk. Dari organisasi kebudayaan siap menghibur pendatang yang mengunjungi jalan Malioboro.

Sosialisasi Kepada Masyarakat Luar

Maka dari itu, dari keasyikan masyarakat dalam menikmati Selasa Wage di jalan Maliboro, ada satu hal yang perlu diantisipasi, yakni kepada pengunjung luar kota. Terkadang mereka belum tahu tentang informasi yang diterapkan di Jogja, sehingga dari rumah ingin rekreasi ke Jogja dan mampir di Malioboro, jika rencana ini dilaksanakan tepat Seloso Wage, sudah pasti mereka kecewa. Niat ingin belanja ketika sudah sampai jalan Malioboro ternyata tidak menemukan pedagang satu pun.

Maka dari itu, perlu diketahui bahwa jika ingin berbelanda di jalan Malioboro jangan hari Selasa Wage. Carilah waktu kapanpun asal tidak Selasa Wage. Sebab, hal ini pernah terjadi dari rombongan wisatawan Jawa Tengah selepas dari Gunung Kidul, sorenya ingin ke Malioboro membeli oleh-oleh dari Jogja, ternyata sesampai di Malioboro hanya menemukan kerumunan orang berada di tengah jalan bersuka ria, tanpa menemukan satupun pendagang kaki lima di sepanjang Malioboro. Akhirnya mereka memutuskan pulang dengan oleh-oleh seadanya waktu dibelinya di wisata Gunung Kidul.

Tinggalkan Balasan