Menggali Filosofi Jalan Malioboro Yogyakarta

1
15
jalan malioboro yogyakarta

Kota Yogyakarta, destinasi negara Indonesia yang terlihat menawan dari sudut pandang para wisatawan. Bukan hanya lokal saja tapi banyak turis mancanegara datang ke Jogja untuk mencari kenikmatan dunia. Jogja, kota budaya yang menjadikan pendatang tidak bisa melupakan begitu saja. Banyak kenangan berceceran di sudut jogja. Angkringan, wedang uwuh, wedang ronde, wedang bajigur, dan bakpia menjadi pengisi perut para wisatawan yang suka merasakan kuliner khas kota ini. Berbicara Yogyakarta, tentu tidak bisa dilepaskan dari jalan Malioboro. Sebab di sana ada filosofi yang menjadikan semua pengunjung wajib mengunjunginya. Walau hanya mampir tak mengapa, terpenting sudah menjejakan kaki di jalan Malioboro. Rasanya ada yang kurang jika wisatawan ke Jogja belum mampir ke Maliboro.

Jalan Malioboro

Jalan Malioboro merupakan jantung dari kota Yogyakarta. Jalan tersebut menjulur lurus dari arah utara ke selatan. Jalan Malioboro memiliki panjang 2 kilometer. Di sampingnya tertata rapi, memfasilitasi para pejalan kaki untuk menikmati bangunan klasik sepanjang jalan. Malioboro bisa disebut sebagai obor (lentera) Jogja. Hakikat obor tersebut yakni untuk menerangi setiap pengunjungnya. Memberikan cahaya sepanjang jalan setapak Malioboro. Kita hidup di dunia sudah sepantasnya mencari cahaya agar selama meniti hidup dapat karuniaNya. Dengan datang ke jalan Malioboro, siapapun orang tersebut mendapatkan keberkahan. Terhindar dari berbagai macam keburukan yang tidak diinginkan.

Akan tetapi untuk meraup berkah tidak semudah itu, sebab di jalan Malioboro Yogyakarta pun banyak godaan. Rintangan itu berada di sisi pinggir jalan. Bersentral di pasar Bringharjo dan seterusnya ke arah selatan. Di situ banyak beraneka ragam kebutuhan jasmani yang menggugah syahwat agar berhenti sejenak, tidak meneruskan perjalanan yang ingin dituju. Tidak sedikit para pengunjung datang ke Maliboro dengan tujuan ke pasar Bringharjo. Memuaskan hawa nafsu agar segalanya dapat terpenuhi. Pasar tersebut tersistem segala macam ada dan harganya murah-murah.

Filosofi Alam

Selain itu, jika kita menorehkan kepala melihat sisi kanan dan kiri sepanjang jalan Malioboro, maka yang ditemui yakni pohon asem. Dalam filosofi Jawa, pohon asem bermakna “kesemsem”. Bagi siapa saja yang datang ke jalan Malioboro maka hatinya akan bahagia, ceria, sumringah, dan berjiwa riang. Sedangkan daun dari pohon asem bercabang enam memiliki arti sinom atau “enom”. Seseorang yang datang akan terlihat jiwa mudanya. Jadi, tidak perlu heran jika disepanjang jalan Malioboro terpadat ibu-ibu atau bapak-bapak sudah tua namun terlihat bersahaja menikmati kehidupannya. Walaupun tidak kaya dan memiliki harta yang lebih, namun mereka menemukan kebahagiaan di sepanjang jalan Malioboro.

Ada juga pohon sawo kecik. Pemerintah Yogyakarta sendiri memiliki alasan memberi tanaman sawu kecil di sepanjang jalan Malioboro. Pohon sawo kecik melambangkan kebecikan. Artinya yaitu menjadikan seseorang memiliki sifat “becik” atau berbudi pekerti yang baik. Pendatang yang ada di jalan Malioboro memiliki berjuta karakter. Setiap pengunjung berbeda-beda dalam bertindak. Namun, ketika mereka sudah datang ke jalan Malioboro, semoga kepulangannya menjadikan seseorang tersebut menjadi baik. Sifat-sifat buruk sirna sudah di gugurkan oleh pohon sawo kecik tersebut.

Sekarang semakin menarik. Dari pemerintah memberi aturan setiap Selasa Wage memberi kesempatan untuk pejalan kaki dan sepeda menikmati jalan Malioboro tanpa harus terganggu kendaraan bermotor atau roda empat. Di hari Selasa Wage, menurut orang Jawa adalah hari yang sakral. Jika mengacu pada kitab Primbon Jawa, pasaran Selasa Wage memiliki arti Lakuning Bumi dan Jaga Mantri Sinaroja. Lakuning Bumi memiliki arti sifat yang selalu mengalah, sabar, tidak gegabah dalam bertindak dan mampu melindungi satu sama lain. sedangkan makna dari Jaga Mantri Sinaroja adalah mampu mengerjakan berbagai hal kebaikan.

Setiap weton Selasa Wage, Dinas Pariwisata Yogyakarta mengharapkan sepanjang jalan Malioboro mampu dimanfaatkan sebagai rasa solidaritas menjunjung tinggi kebersamaan dan keragaman. Icon kota budaya harus tetap dimunculkan agar Jogja tidak pernah tenggelam dalam sanubari masyarakat luas.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here