Kota Pamatan dan Samalas yang Terinspirasi Sang Vesuvius

0
29
vesuvius

Kota Pompeii yang hilang bukanlah sekadar isapan jempol belaka. Alih-alih terjebak dalam kesimpangsiuran layaknya dongeng Atlantis, Pompeii terbungkam dalam timbunan sejarah yang sempat tak terdeteksi.

Menurut indikasi saintifik, Pompeii lenyap akibat sebuah letusan hebat. Letusan yang terjadi pada 79 M itu diasumsikan setara dengan ledakan bom atom di Hiroshima, Jepang pada masa Perang Dunia II silam.

Letusan itu memaksa Pompeii bersembunyi dari peradaban. Kota itu tertimbun material yang membuat kerusakan hingga membuatnya lumpuh tak layak ditinggali lagi.

Menurut sejarah dan temuan ilmiah, Gunung Vesuvius adalah sosok yang bertanggung jawab akan hal itu. Material letusan vulkanik-nya tak hanya mengubur satu wilayah, tapi juga harapan yang lebih dulu terbentuk di dalamnya.

Amukan Vesuvius itu menimbulkan sekitar 2.000 korban jiwa di kota Pompeii—kala itu diperkirakan dihuni 13.000 – 15.000 jiwa. Selebihnya, warga yang selamat kehilangan keyakinan untuk tetap tinggal.

Padahal, sebelum hempasan tersebut, Pompeii merupakan kota berarsitektur megah yang berada di bawah pemerintahan Romawi Kuno. Geliat ekonomi pun terjalin antar warganya.

Hilang Ditinggal Peradaban

Kerusakan yang dibuat Vesuvius memaksa warga Pompeii yang berhasil selamat pergi. Mengungsi, bermigrasi ke wilayah-wilayah lain dan melupakan Pompeii.

Kota Pompeii pun akhirnya kehilangan semangat sepenuhnya. Kota yang kini masuk dalam wilayah Campania, Italia itu tenggelam disembunyikan oleh kemegahan alam dan ditinggalkan peradaban yang terus berlanjut.

Tragedi besar itu mampu menyembunyikan Pompeii selama lebih dari 1600 tahun. Ulah Vesuvius beserta jejak kota kuno tidak diketahui sampai peradaban tiba di abad ke-16.

Menariknya, jejak “fosil” Pompeii itu diketahui secara tidak sengaja oleh sekelompok penjelajah pencari artefak kuno. Temuan itu pun menjadi titik balik bagaimana akhirnya Pompeii bertransformasi menjadi salah satu situs warisan dunia UNESCO.

Alhasil, Vesuvius dan Pompeii merupakan dua hal yang saling bertautan. Di samping dari sudut pandang “pelaku dan korban”, keduanya sama-sama mewakilkan bagaimana semesta di masa lalu.

Terinspirasi dari Sang Vesuvius

Kisah Atlantis sebagai kota yang hilang tidak sepenuhnya mustahil terjadi. Seperti halnya Pompeii dengan pengalamannya, ada sejumlah tempat yang memiliki kemiripan.

Pompeii tidaklah sendirian dalam jajaran “korban” kota yang jatuh dan hilang. Hal itu dibuktikan dari narasi kuno dan dikuatkan dengan temuan ilmiah.

Nah, Pompeii adalah representasi dari sebuah kota yang hilang akibat bencana alam. Ada sejumlah nama-nama lain yang disebabkan oleh serangan atau kependudukan melalui perang; ataupun memang murni ditinggalkan dan terbengkalai.

Apa yang dilakukan Vesuvius, dilakukan pula oleh Gunung Samalas, identitas kolosal Rinjani di Pulau Lombok. Setidaknya demikianlah dugaan para ilmuwan belakangan ini.

Seakan terinspirasi dari “senior”, letusan Samalas di abad ke-13 juga diyakini mengakibatkan hal yang sama. Sebuah kota kuno yang terkubur dari permukaan peradaban.

Pompeii dari Wilayah Timur

Senasib seperti Pompeii, Gunung Samalas melenyapkan harapan warga salah satu kota pada masa itu. Menurut literatur Babad Lombok, kota itu bernama Pamatan.

Pada sumber tersebut, letusan Samalas tahun 1257 itu membuat Pamatan terpaksa meniru Pompeii. Penduduk kota yang digambarkan hidup sejahtera terpaksa melepas semuanya karena amukan Samalas itu.

Dapat dibayangkan dampak yang diterima Pamatan yang duduk satu pulau dengan Samalas kala itu. Bagaimana amukan Samalas bahkan sampai menyeberang mengganggu “kebahagiaan” wilayah Eropa.

Dalam meniru Vesuvius, Samalas harus mengorbankan ⅔ dari total tegap tubuhnya yang menjulang setinggi ± 4.500 mdpl. Namun, “pengorbanan” Samalas itu berdampak besar. Material vulkanik menyapu Pamatan dan menyapa jauh ke benua seberang.

Timbunan material letusan tertiup angin dari arah timur ke barat, menyentuh setengah dari 5.435 km² total luas Pulau Lombok. Tim Geosain Evolusi Gunung Rinjani mengatakan pada Tempo pada tahun 2015, bahwa tebal endapan material mencapai 40 meter.

Nasib yang (Masih) Berbeda

Lebih lanjut tim peneliti tersebut juga mengungkapkan bahwa material yang dialirkan sungai. Melalui sungai, material dialirkan hingga pantai. Dua di antaranya Pantai Luk dan Nipah di Lombok Utara yang berjarak 27-41 km.

Akibatnya, Kota Pamatan yang tertimbun dijuluki sebagai “Pompeii in the far east”. Kendati demikian, nasib Pamatan masih dalam satu simpul tanda tanya besar, berbeda dengan Pompeii hari ini.

Perbedaan nasib itu tercermin dari nuansa Pompeii yang kini bisa dinikmati peradaban saat ini. Berbeda dengan Pamatan yang persembunyian masih belum dapat dipastikan.

Apakah kota yang hilang versi Lombok ini akan muncul kembali? Para ilmuwan setidaknya masih berjuang untuk kemungkinan yang ada. Para peneliti masih mencocokkan kemungkinan itu dengan literatur kuno yang dikenal dengan sebutan Babad Lombok.

Kota Pamatan dan letusan Samalas terekam dalam catatan tersebut. Catatan yang dialihbahasakan oleh Lalu Gde Suparman pada tahun 1994 itu menjadi rujukan petunjuk yang esensial.

Wajah Kota Pamatan

Kota Pamatan sendiri diketahui sebagai ibu kota Kerajaan Pamatan. Diperkirakan ada 10.000 jiwa mendiami kota ini. Dilengkapi juga dengan keberadaan benteng kota, jalanan besar, taman-taman kota dan balai pertemuan.

Di dalam Babad Lombok, Pamatan digambarkan sebagai kota dengan kehidupan penduduk yang sejahtera. Kota ini juga dikatakan sebagai penghasil hasil pertanian melimpah berkat tanahnya yang subur.

Selain hasil pertanian dan perkebunan, hasil perikanan juga turut disebut menyokong kota ini, mulai dari ikan, kepiting, tiram, hingga rumput laut. Hal ini pulalah yang membuat Kota Pamatan menjadi salah satu basis perdagangan pada masanya.

Gambaran tersebut tentunya terbentuk sebelum Samalas mengintervensi kedamaian yang mengiringi Pamatan sebagai pusat pemukiman. Pamatan pun tersembunyi di balik misteri antara fakta atau dongeng seperti Atlantis yang masyhur.

Belum ada detail pasti tentang bagaimana wajah Pamatan di masa lampau. Tapi, sebelum jauh ke hal itu masih ada satu hal penting yang perlu digali lagi, yaitu posisi persis Kota Pamatan ini berada.

Antara Laut dan Gunung

Dua kekayaan yang berbeda genre seperti yang dituliskan dalam Babad Lombok pun menuntun para peneliti untuk mencocokan pola. Hal itu berkaitan tentang keberadaan Pamatan di Pulau Lombok secara lebih spesifik.

Limpahan hasil laut dan pertanian dapat mengindikasikan jika kota kuno ini berada antara pesisir laut dan kawasan kaki gunung. Kemungkinan ini cukup kuat, mengingat Pulau Lombok yang terbilang mungil.

Apabila menelisik kawasan gunung, Lombok memiliki satu kawasan metropolitan alam, yaitu Samalas alias Rinjani. Ya, kemungkinan cukup besar lantaran pulau ini hanya dihiasi satu gunung berapi.

Berporos pada posisi Gunung Samalas, ada tiga wilayah pesisir yang memungkinkan yaitu, pesisir bagian utara, barat, atau timur. Pesisir selatan dianggap tak memenuhi karakteristik sebagai opsi karena terlampau jauh dari lokasi Samalas berada.

Dugaan Pamatan juga berada pesisir juga dikuatkan lagi dengan uraian Babad Lombok bahwa banyak rumah penduduk yang hanyut ke laut akibat terseret aliran material letusan Samalas kala itu.

Ikuti Jejak Pompeii

Pamatan sendiri dibangun oleh penduduk yang datang bermigrasi dari sebuah desa yang disebut sebagai Desa Lae. Banyak dugaan sejarawan menyebut desa tersebut berada di ujung timur Pulau Lombok.

Namun, ketika letusan Samalas terjadi, banyak warga Pamatan dikisahkan berbondong naik ke perbukitan. Hal itu demi menghindari material letusan yang berjatuhan setelah melayang ke langit.

Beberapa tempat sekitar juga dijadikan pengungsian. Beberapa lokasi yang disebut dalam Babad Lombok antaranya: Leneng, Jeringo, Samulia, Borok, Pundung, Bandar, Serowok, Ranggi, dan Sembalun.

Adapun, kedekatannya dengan wilayah pesisir juga kian diperkuat karena disebutkan bahwa ada pula warga yang memilih menyelamatkan diri dengan perahu.

Akan tetapi, lokasi-lokasi itu tadi bisa saja berbeda dengan nama penyebutan yang berlaku zaman ini. Alhasil, Pamatan pun masih jadi misteri. Sebuah kota yang mengikuti jejak Pompeii untuk hilang. Namun belum juga kembali.