Cara Bali Tangi Jual Kearifan Lokal

3
29
logo bali tangi

Tidak hanya sekedar menjual produk spa, tapi juga menciptakan masyarakat hidup sehat selaras dengan alam serta menjual kearifan lokal, visi itulah yang diusung Bali Tangi.

Sehingga produk kecantikan dalam bentuk lulur, massage oil, body milk, sabun, shower gel, scrub dan berbagai produk lain yang dibuatnya kini telah mendunia.

Di dunia bisnis kecantikan herbal dan spa diIndonesia utamanya di Bali, nama Bali Tangi bisa dibilang merupakan salah satu pemain besar dengan omzet mencapai ratusan juta perbulan.

Omzet sebesar itu diperoleh dari penjualan 71 jenis produk yang dipasarkan melalui 2 unit show roomnya yang ada di kawasan Denpasar dan Kuta serta rumah makan sehat dan spa yang ada di Denpasar. Selain itu juga menjadi pemasok bahan bagi 90 unit spa yang ada di Bali dan di beberapa negara seperti Malaysia, Australia, Jepang hingga Maldives.

Sedang untuk membuat produk dan menjalankan perusahaan, Bali Tangi memiliki 1unit factory di Denpasar dan mempekerjakan karyawan sebanyak 54 orang. Jumlah karyawan tersebut tidak termasuk masyarakat lingkungan sekitar yang diberdayakan untuk memperoleh bahan baku.

Visi: menjual kearifan lokal yang diusung Bali Tangi, tidak hanya slogan semata. Semua produk spa dan kecantikan herbal yang dibuatnya menggunakan bahan baku dari alam berupa tanaman dan bahan herbal serta rempah-rempah tanpa ada sedikitpun tambahan unsur kimia.

Bahkan pembuatannyapun dilakukan dengan menggali dari naskah literatur kuno dengan tetap melibatkan pakar di bidang kesehatan untuk meneliti dan mengolah bahan-bahan dari alam sehingga menghasilkan produk spa dan kecantikan herbal yang terbaik.

Begitu juga dengan Spa Bali Tangi, teknik massage yang digunakan diambil dari teknik tradisional Jepun Tantra Massage. Teknik yang bersumber dari naskah kuno ini mengkombinasikan pijat titik cakra dengan pelemasan yoga.

Tidak Ada Kata Terlambat dalam Mengawali Bisnis

produk bali tangi

Sukses yang diraih Bali Tangi tidak dapat dilepaskan dari nama pendirinya, yaitu sepasang suami – istri, I Wayan Sukhana dan Made Yuliani Djajanegara. Mereka telah membuktikan bahwa tidak ada kata terlambat dalam mengawali bisnis. Betapa tidak, saat mendirikan Bali Tangi pada tahun 2002, usia Sukhana sudah 53 tahun sedang Yuliani 50 tahun.

Bisnis spa dan kecantikan herbal tersebut, sebenarnya juga berawal dari keterpaksaan. Sukhana semula bekerja di perusahaan farmasi PT Kresna Karya sedang Yuliani adalah seorang bidan. Mereka juga berjualan cinderamata melalui sebuah kiosnya yang kecil.

Kondisi ekonomi mereka yang semula stabil, suatu ketika terguncang akibat peristiwa “Bom Bali”. Karena peristiwa tersebut, banyak negara yang memberlakukan travel warning ke Bali.

Akibatnya, perusahaan besar termasuk perusahaan tempat Sukhana bekerja bangkrut sehingga dia harus berhenti dari tempatnya bekerja. Begitu juga dengan perusahaan kecil seperti toko yang menjual souvenir miliknya, ikut pula gulung tikar.

Awal Mula Bali Tangi

Dalam kondisi tidak menentu dan tidak memiliki pekerjaan, Sukhana yang bingung karena harus menghidupi istri dan ketiga anaknya yang menginjak remaja, mencoba berjualan aksesoris buatan China.

Dengan bermodal uang pesangon Rp.6 juta dia titipkan barang dagangannya ke sejumlah swalayan yang ada di Denpasar. Ternyata barang yang dijual banyak yang tidak laku, sehingga usahanyapun gulung tikar.

Dalam kondisi yang terpuruk tersebut pada tahun 2002 datang tawaran dari salah seorang pemilik spa yang minta dibuatkan lulur untuk spa bagi wisatawan asing. Tawaran tersebut diterima, namun karena tidak memiliki pengetahuan tentang cara membuat lulur, sehingga produknya sempat 3 kali ditolak.

Keberanian yang Berbuah Kesuksesan

Keberanian Sukhana menerima tawaran tersebut karena dia tahu istrinya bisa membuat boreh atau lulur khas Bali. Dengan berpedoman dari cara membuat boreh ditambah pengalaman 3 kali ditolak itulah, lulur yang dibuat istrinya akhirnya bisa diterima oleh pemilik spa.

Sejak saat itu Sukhana dan Yuliani mulai memproduksi berbagai macam jenis lulur, mulai dari lulur tanah, lulur bunga dan rempah-rempah. Ketika permintaan semakin meningkat, mereka memberi nama pada produknya dengan merek “Dupa Mutiara”.

Merek tersebut tidak bertahan lama karena kemudian diganti dengan merek “Bali Tangi” yang merupakan nama CV saat mereka masih berjualan souvenir.

Dengan mengibarkan bendera Bali Tangi itulah bisnis yang mereka kembangkan maju dengan pesat lewat produksi berbagai macam produk spa dan kecantikan herbal dan dengan pangsa pasar yang  menembus hingga ke manca negara. (*)

3 KOMENTAR

  1. Ini salah satu hal yang menarik dari Bali. Banyak usaha lokal yang benar-benar memanfaatkan unsur-unsur lokal. Yang dapat manfaat akhirnya nggak cuma satu pihak.

    Mudah-mudahan Bali Tangi makin sukses dan menginspirasi banyak orang. 😀

Tinggalkan Balasan