Tari Indang; Simbol Ketaatan Beragama

0
7
tari indang

Anda mungkin pernah mendengar sebuah seni tari “Tari Indang“. Ya, Tarian ini berasal dari Sumatera Barat. Tarian Indang juga dikenal dengan nama Tari Badindin atau Tari Indang Badindin. Karena semua tarian tersebut merujuk pada lagu pengiring tarian yaitu lagu dindin badindin.

Lagu Badindin sebagai lagu pengiring Tari Indang

Istilah indang diambil dari nama sebuah alat musik sejenis rebana, namun ukurannya lebih kecil berkisar 18-15 cm. Alat musik indang digunakan sebagai metronom atau pengatur tempo.

Tari tradisional indang adalah salah satu bentuk sastra lisan yang disampaikan secara berkelompok. Tarian ini biasa difungsikan untuk media dakwah Islam, namun saat ini Tarian Indang juga merupakan tari pergaulan muda-mudi.

Tarian Indang dipertunjukkan dengan gerakan yang ceria, dinamis dan kompak. Para penari yang disebut anak indang, harus saling bekerjasama untuk menghadirkan kekompakan pada gerakkan tersebut. Penarinya berjumlah ganjil dan dipimpin oleh seorang tukang zikir. Mereka berdendang sambil memainkan indang.

Sejarah Berkembangnya Tari Indang

Tarian Indang berkembang di dalam masyarakat Minang sebagai penggambaran masuknya Agama Islam ke Sumatera Barat sekitar abad ke-13. Tarian ini sangat kental akan pengaruh budaya Islam di Minangkabau. Kesenian ini juga sebagai manifestasi budaya mendidik melalui surau.

Tarian Indang merupakan hasil akulturasi budaya Minang dan budaya Islam yang menyebar pada abad ke-14. Peradaban Islam sendiri diperkenalkan oleh para pedagang muslim yang masuk ke Aceh. Bermula dari pesisir barat Pulau Sumatera, kemudian menyebar hingga ke Ulakan-Pariaman.

Seperti yang sudah disebutkan, tarian ini lahir dan berkembang di surau-surau. Biasanya tarian dimainkan setelah aktivitas mengaji. Jadi, kesenian tari ini bersifat pendidikan agama, makanya isi nyanyiannya pun memuat perihal pengajaran agama.

Tarian ini terus berkembang dan pertunjukkannya tidak lagi hanya di surau-surau, melainkan di sebuah tempat yang bernama laga-laga. Laga-laga adalah sebuah tempat tanpa dinding, sehingga memungkinkan penonton bisa menyaksikan tarian dari segala penjuru.

Dahulu, setiap nagari di Pariaman mempunyai  grup kesenian Indang sendiri dan sarat akan sesuatu yang sakral. Ada yang mengatakan, setiap kelompok tersebut memiliki orang tua yang mempunyai kekuatan gaib yang disebut sipatuang sirah. Sipatuang sirah tersebut melindungi keselamatan kelompoknya dari kekuatan luar yang bisa menghancurkan kelompok lain.

Untuk melakukan pertunjukkan Tarian Indang, ada dua pemilihan waktu yang dikenal dengan istilah Indang naik dan Indang turun. Pada hari pertama, tarian indang dimulai pada tengah malam sekitar jam 11-12 malam. Sementara itu saat memasuki hari kedua, tarian akan dimulai saat hari telah senja atau setelah salat magrib.

Gerakan Tari Indang yang Penuh Makna

Para penari yang berjumlah sekitar 9-25 orang itu akan memainkan Indang dengan memukul menggunakan tangan atau menjentikan jari mereka. Gerakan tarian tersebut terlihat sederhana, namun sarat akan makna.

Penari akan melakukan gerakan tangan dengan jari yang membuka, patah-patah menyiku mengarah ke atas. Gerakan tersebut seolah mengungkapkan rasa syukur serta pengagungan kepada Tuhan.

Mereka juga akan menepuk tangan secara berirama yang menimbulkan kesan ceria. Sedangkan gerakan badan biasanya naik turun atau ke kanan dan ke kiri. Selain itu, tubuh penari akan meliuk-liuk secara serempak dan berlawanan antar satu sama lainnya.

Istilah Orang Yang Berperan Penting dalam Tari Indang

Di dalam Tarian Indang, dikenal pula orang yang berperan penting mewarnai jalannya pertunjukkan, yaitu:

Tukang Zikir

Tukang zikir merupakan penyanyi tunggal yang kemudian diikuti oleh seluruh pemain. Dia duduk di belakang, di luar deretan para pemain lain.

Tukang Alih

Tukang alih memiliki peran untuk mengalihkan gerakan yang satu kepada gerakan yang lain. Selain itu, juga mengalihkan cara pemukulan Indang yang di pegang oleh para pemain.

Nah, itulah sekilas mengenai Tari Indang. Tari tradisional khas Sumatera Barat ini mempresentasikan masyarakat Pariaman yang bersahaja dan taat dalam beragama. Semoga saja tarian tradisional yang penuh makna ini masih terus dikembangkan oleh para muda-mudi Indonesia.

Tinggalkan Balasan