Stadion Sriwedari Solo, Stadion Tertua di Indonesia

0
14
stadion sriwedari solo

Bagi penggemar sepak bola di tanah air, tentu sudah tidak asing lagi dengan nama Stadion Sriwedari Solo, karena stadion ini pernah menjadi homebase dua club besar, yaitu Arseto Solo yang saat ini hanya tinggal nama serta PERSIS Solo yang berpindah kandang ke Stadion Manahan Solo.

Dibangunnya Stadion Manahan pada tahun 1998 memang memberi dampak besar bagi Stadion Sriwedari, karena Manahan yang memiliki ukuran lebih luas dan fasilitas lebih lengkap selanjutnya menjadi alternatif pertama yang dipilih setiap kali ada event olah raga bertaraf nasional atau event-event besar lainnya yang diselenggarakan di Solo.

Hal itulah yang membuat Sriwedari saat ini cenderung sepi dari berbagai aktifitas. Terlebih setelah PERSIS Solo memindahkan markasnya ke Manahan, Sriwedari praktis tidak pernah diramaikan oleh teriakan Laskar Pasoepati (julukan suporter PERSIS Solo).

Deskripsi Singkat tentang Stadion Sriwedari

Sebagai stadion tertua di Indonesia, Sriwedari tercatat dalam sejarah karena pasca kemerdekaan, stadion ini digunakan oleh Presiden Soekarno untuk mempersatukan bangsa Indonesia melalui event olah raga, yaitu PON (Pekan Olah Raga Nasional) I yang digelar pada 9 September 1946.

Sriwedari memiliki luas total 58.579 meter2 dengan luas stadion 24.011 meter2 serta lapangan sepak bola seluas 70 x 100 meter2. Terdapat 5 pintu masuk di sekeliling area stadion ditambah 3 tiketbox untuk melayani penjualan tiket  dan area parkir yang dapat menampung 250 mobil serta 400 motor.

Stadion yang menggunakan penerangan utama 2 lampu 400 lux ini pada bagian dalamnya terdapat tribun tertutup untuk penonton VIP dan umum di sisi sebelah Barat serta tribun terbuka di sisi sebelah Timur, Selatan dan Utara.

Stadion Sriwedari memiliki kapasitas hingga 12.000 penonton yang terbagi atas 250 orang untuk tribun VIP, 1.125 orang untuk tribun tertutup umum serta 10.000 orang untuk tribun terbuka. Luas, kapasitas dan fasilitas Sriwedari tersebut sangat jauh dibanding Manahan yang memiliki luas total 170.000 meter2 dengan daya tampung sampai dengan 35.000 penonton.

Sejarah Singkat Stadion Sriwedari Solo

Meski kalah segala-galanya dibandingkan dengan Manahan, namun ada kelebihan Sriwedari yang tidak dimiliki oleh Manahan, yaitu sejarah panjang yang mengiringi pembangunan dan berdirinya stadion ini.

Bermula dari perlakuan diskriminatif Pemerintah Penjajah Belanda yang hanya memperbolehkan penduduk pribumi bermain sepak bola di lapangan Alun-alun Kidul dengan tanpa menggunakan alas kaki, Raja Keraton Surakarta, Sri Susuhunan Pakubuwono X yang merasa prihatin akhirnya memutuskan untuk membangun stadion pada tahun 1932.

Dengan biaya sebesar 30.000 gulden, Arsitek pembangunan stadion ditangani Mr. Zeylman sedang pelaksana pembangunan dipercayakan kepada R.Ng. Tjondrodiprojo. Butuh waktu sekitar 8 bulan bagi 100 orang pekerja untuk menyelesaikan ini, sebelum akhirnya diresmikan pada tahun 1933.

Karena memiliki nilai sejarah yang besar, di masa pemerintahan Presiden Soehato, tepatnya pada tahun 1982 dilakukan pemugaran terhadap bangunan stadion, yang meliputi perbaikan lapangan sepak bola, lintasan lari dan lompat jauh, perluasan area parkir serta pembangunan pemukiman atau mess atlet.

Stadion Sriwedari sempat berganti nama menjadi Stadion R. Maladi pada 4 Agustus 2003 atas usulan Paguyuban Eks Tentara Pelajar Brigade 17 Surakarta. Dipilihnya nama R.Maladi dengan maksud untuk mengenang Maladi yang lahir di Surakarta, 30 Agustus 1912. Tokoh ini selain dikenal sebagai musisi keroncong yang handal juga menjadi pemimpin Tentara Pelajar saat terjadinya pertempuran melawan pasukan Belanda pada peristiwa Serangan Umum di Solo.

Maladi yang pernah menjadi penjaga gawang tangguh di club PSIM Mataram, memiliki jasa yang besar dalam dunia persepakbolaan Indonesia, karena pernah menjadi Ketua Umum PSSI periode 1950 – 1959. Setelah itu dia menjadi Menteri Penerangan pada tahun 1959 – 1962 dan menjabat Menteri Pemuda dan Olah Raga pada tahun 1964 – 1966.

Meski penggunaan nama Stadion R. Maladi cukup tepat, namun dengan alasan kesejarahan, membuat Pemerintah Kota Surakarta yang pada waktu itu dipimpin oleh Joko Widodo, di bulan November 2011 mengembalikan lagi nama stadion menjadi Stadion Sriwedari. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here