Serak Jawa, Burung Langka yang Belum Banyak Orang Tahu

0
66
serak jawa

Burung Serak Jawa ini memiliki keistimewaan tersendiri, kehadirannya sangat bermanfaat untuk manusia. Serak Jawa bersahabat dengan petani di Pekalongan, Blitar, Semak dan Banyuwangi karena mampu mengendalikan populasi tikus.

Nama latin dari burung ini adalah Tyto Alba dengan ukuran panjangnya mencapai 34cm. Bulu pada bagian muka dan bagian bawah tubuhnya didominasi oleh warna putih.

Uniknya, bentuk mukanya seperti jantung hati dengan tepian coklat dan memiliki iris warna hitam. Berbeda dengan jenis burung lain, matanya menghadap ke depan dengan paruh yang tajam menghadap ke bawah.

Serak jawa disebut juga sebagai burung hantu, orang sunda menyebutnya dengan nama lain yaitu Bueuk.

Ciri Khas

Tyto Alba memiliki bulu lembut dengan corak tersamar. Pada bagian atasnya, Anda akan melihat warna kelabu terang dengan sejumlah garis gelap dan bercak pucat tersebar.

Bercak tersebut biasanya lebih rapat sebagai tanda bahwa serak jawa berjenis kelamin betina. Terdapat tanda mengkilat juga pada sayap dan punggung, kakinya berwarna putih kekuningan hingga coklat.

Umumnya, ukuran tubuh dari jantan dan betina hampir sama. Hanya saja serak jawa betina kadang berukuran lebih besar.

Serak Jawa berkembang biak dengan cara bertelur ketika berumur 9 bulan, dalam setahun bisa bertelur 2-3 kali. Hebatnya lagi, jumlah telur setiap musim berkembang biar bisa berkisar antara 4-19 butir telur tergantung ketersediaan pakan.

Tidak heran jika populasi pengendali tikus ini bisa diperbanyak dalam waktu yang relatif singkat. Burung serak jawa dewasa bisa memangsa 2-5 tikur per hari.

Petani biasa memanfaatkan serak jawa untuk memangsa tikus karena burung tersebut bisa berburu tikus sejak umur 5 bulan. Perkiraannya, sepasang serak jawa bisa melindungi 10 hektar sawah dari serangan sawah.

Petani biasanya menempatkan satu pagupon atau kandang (rumah kecil) untuk burung yang ditempatkan tiap 3 hektar sawah. Tentu saja ini membuat burung hantu merasa nyaman untuk menempatinya.

Keberhasilan tersebut ditunjang oleh kemampuan terbang tanpa suara, apalagi dibekali pendengaran yang sangat tajam. Ketika terbang, suara kepakan sayap tidak terdengar karena berhasil diredam oleh semacam lapisan bulu-bulu sayap bagian bawah.

Selain itu, tepi bulu sayapnya memiliki gerigi yang sangat halus mirip sisir. Cara terbang tanpa suara ini membuat burung hantu tidak terdeteksi pergerakannya oleh hewan lain.

Habitat Burung Serak Jawa

Habitat burung ini sebenarnya berada di tepi hutan, namun banyak juga berada di lahan budidaya hingga di taman kota. Umumnya hidup di daerah yang banyak pepohonan dengan ketinggian mencapai kurang lebih 1600 mdpl.

Banyak juga yang bertengger di dahan rendah, bahkan di beberapa ladang pertanian yang terbilang dataran rendah.

Burung hantu lebih aktif di malam hari karena termasuk jenis binatang nocturnal. Mata burung yang cukup menyeramkan itu peka terhadap cahaya, sehinga penglihatannya lebih bagus di kegelapan malam.

Karena sering memangsa tikus, maka makanannya pun tidak jauhh-jauh seperti kadal atau ular. Kadang juga hewan-hewan kecil yang sering ditemukan di ladang pertanian atau sawah.

Jika ukuran mangsanya kecil, biasanya ditelan secara utuh. Sedangkan jika terbilang berukuran besar, akan dicabik-cabik hingga berukuran kecil terlebih dahulu.

Ketika berburu, burung ini tidak mengandalkan kecepatan seperti elang yang menerkam mangsanya. Justru burung ini lebih menggunakan indera pendengaran yang tajam sekali untuk mencari mangsanya.

Burung Serak Jawa ternyata bukan sekedar menghiasi kekayaan fauna di Indonesia. Melainkan bermanfaat dan bersahabat juga dengan para petani untuk ikut menjaga ladang pertanian atau sawah.

Tinggalkan Balasan