Nurhayati Subakat, Bangun “Wardah” dari Industri Rumahan Menuju Jajaran Merek Kosmetik Dunia

5
53
nurhayati subakat

Siapa sangka industri rumahan milik Nurhayati Subakat dengan modal yang minim kini menjelma menjadi perusahaan besar yang memiliki 6 pabrik di atas tanah seluas 20 hektar di kawasan Jatake, Tangerang dan dengan jumlah tenaga kerja lebih dari 10 ribu karyawan.

Itulah “Wardah”, perusahaan kosmetik yang dibangun Nurhayati Subakat pada tahun 1985. Berkat kiprahnya di dunia bisnis dan keberhasilannya dalam membangun Wardah, membuat Majalah Forbes memasukkan perempuan ini dalam daftar pebisnis paling berpengaruh di Asia (Women in Business 2018).

Tidak main-main, saat ini Wardah menempati urutan teratas untuk kategori make-up, berada di urutan terdepan untuk penjualan pelembab (moisturizer), menjadi nomor wahid untuk kategori perawatan kulit (skin care) dan di posisi ketiga untuk penjualan cleanser dan produk perawatan wajah (face care).

Value growth alias pertumbuhan nilai Wardah mencapai 40,1%. Melebihi angka pertumbuhan ekonomi nasional yang masih berada pada kisaran 5%.

Lebih membanggakan lagi, karena merek-merek kosmetik asing seperti Revlon, Maybelline serta merek lain yang sebelumnya merajai pasar Indonesia, angka penjualannya kini sudah berada di bawah Wardah.

Perjalanan Panjang Menuju Sukses

Alumni Farmasi ITB (Institut Teknologi Bandung) ini awalnya hanya seorang karyawan di sebuah perusahaan kosmetik. Setelah bekerja selama 5 tahun, pada tahun 1985 muncul keinginan untuk membuka bisnis dengan memproduksi dan menjual merek sendiri.

Maka lahirlah PT Pusaka Tradisi Ibu yang hanya memproduksi shampo bermerek Putri dengan target pasar salon kecantikan. PT Pusaka Tradisi Ibu sendiri selanjutnya berganti nama menjadi Paragon Technology and Innovation.

Nurhayati mulai menggarap kosmetik halal yang diberi nama Wardah pada tahun 1995. Awalnya masih home industry dengan sistem pemasaran MLM (Multi Level Marketing). Jatuh bangun sudah barang tentu mewarnai perjalanan bisnisnya. Namun hal tersebut tidak menyurutkan langkah Nurhayati untuk membesarkan Wardah.

Dalam perjalanan waktu istri dari Subakat Hadi ini menggandeng anaknya, Salman Subakat, untuk ditempatkan sebagai Direktur Pemasaran. Dengan melakukan re-branding, angka penjualan Wardah terus melonjak, hingga kemudian merajai industri kosmestik dalam negeri.

Sukses di negara sendiri masih belum membuat Nurhayati puas, karena targetnya adalah masuk dalam 5 besar brand kosmetik dunia. Untuk itu perluasan pasar ekspor pun dilakukan, meski untuk saat ini baru menembus pasar Malaysia.

Dalam waktu dekat Wardah juga akan mencoba mengadu keuntungan di negara-negara Timur Tengah dan akan terus melebarkan sayap ke negara-negara lain di seluruh penjuru dunia.

“Selain memperluas pasar melalui ekspor, strategi pengembangan kami adalah mengeluarkan produk-produk baru setiap tahunnya, mengingat bisnis kosmetik di Indonesia prospeknya sangat bagus. Bahkan growthnya paling tinggi,” kata Nurhayati.

Berbicara tentang kunci sukses dari bisnis yang dijalankannya, menurut wanita ini diperoleh lewat sistem pemasaran marketing mix.

”Maksud dari markerting mix adalah produk yang berkualitas, harga kompetitif, promosi dan distribusi yang baik serta dapat mengikuti pasar. Ada satu tambahan lagi khusus untuk saya adalah pertolongan dari Allah, kata Bos Wardah ini. 

Jika marketing mix merupakan kunci sukses Wardah, maka untuk kunci sukses seorang Nurhayati Subakat sebagai pengusaha ada dua yaitu mau dan bisa. Maksud dari mau atau kemauan adalah niat besar untuk mewujudkan ide dan gagasan sehingga tidak hanya sekedar rencana.

“Sedang bisa artinya memahami produk atau jasa yang dijual. Kalau seperti saya bisnis kosmetik, berarti harus mengerti tentang kosmetik, bisnisnya seperti apa, pemasarannya bagaimana dan sebagainya. Hal tersebut berlaku untuk usaha apa saja. Karena tidak mungkin kita terjun ke bisnis yang tidak kita mengerti,” papar Nurhayati. (*)

5 KOMENTAR

    • Salah satunya mungkin Kak. Pernah baca artikelnya Pak Dahlan Iskan juga, memang untuk produk kosmetik ini, tren di dunia lebih memilih produk kosmetik lokal dibandingkan dengan produk kosmetik general yang beredar secara umum di Internasional. Salah satu alasannya karena merek lokal lebih memperhatikan dan memang targetnya masyarakat lokal. Kan susah juga kak, bikin produk kosmetik yang bisa sesuai dengan semua jenis kulit orang.

Tinggalkan Balasan