Upacara Ngumbai Lawok Lampung

1
167

Ngumbai Lawok adalah sebuah upacara adat yang berasal dari Lampung yang dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon berkah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Upacara ini merupakan salah satu tradisi yang masih dilestarikan oleh masyarakat Lampung hingga saat ini. Ngumbai Lawok memiliki banyak makna dan simbol yang dihayati oleh masyarakat Lampung, sehingga menjadikannya sebagai salah satu upacara yang sangat berarti bagi mereka.

Dalam upacara Ngumbai Lawok, terdapat berbagai tahapan yang harus dilalui dengan penuh kekhusyukan dan keikhlasan. Mulai dari penyembelihan hewan kurban hingga pembagian daging kurban kepada masyarakat yang membutuhkan. Selain itu, upacara ini juga diisi dengan berbagai kegiatan seperti tarian dan musik tradisional yang menambah kemeriahan acara. Upacara Ngumbai Lawok tidak hanya sekadar ritual, tetapi juga menjadi ajang untuk mempererat tali silaturahmi dan memperkuat nilai-nilai kebersamaan di antara masyarakat Lampung.

Pembaca semua pernah mendengar tentang upacara ruwat laut? Upacara yang diadakan sebagai bentuk terima kasih nelayan kepada penguasa laut yang telah memberikan kekayaan pada para nelayan. Upacara ini memang banyak didapati di daerah Jawa. Tapi, ternyata di Sumatera juga ada upacara ini, tepatnya di Lampung.

Upacara Ngumbai Lawok

Di provinsi ini upacara tersebut bernama ngumbai lawok, dari kata ngumbai yang artinya mencuci dan lawok yang berarti laut. Kurang lebih maknanya sebagai wujud syukur pada penguasa laut dan untuk menghilangkan marabahaya bagi para nelayan. Menurut penelitian upacara ini adalah hasil pengaruh para nelayan dari Cirebon yang singgah di daerah pesisir Lampung. Hem, tidak heran jika upacaranya mirip, ya.

Seperti ruwatan lainnya, upacara ngumbai lawok disertai dengan doa-doa dan pemberian sesajen yang dilarungkan di laut. Biasanya, sesajen yang dilarungkan di lautan Lampung berupa makanan, uang, bunga-bunga, dan puncaknya berupa kepala seekor kerbau.

Upacara yang biasanya di lakukan di Kota Bandar Lampung, Kabupaten Lampung Barat ini, sempat terhenti dikarenakan kritik dari kalangan pemuka agama yang mengatakan bahwa ritual tersebut mengandung sirik atau penyekutuan terhadap Tuhan. Akhirnya, masyarakat pun meninggalkan upacara ngumbai lawok ini.

Setelah beberapa lama terhenti, Bupati Lampung Barat, Umpusinga pun melakukan negosiasi dan kesepakatan dengan berbagai pihak untuk menghidupkan kembali upacara ini. Upacara yang awalnya di tujukan untuk keperluan religi, kini berubah haluan menjadi magnet untuk menarik para wisatawan.

Tata cara yang digunakan pun berada dalam lajur agama, seperti doa-doa yang disampaikan semata-mata ditujukan kepada Tuhan, dan dipimpin oleh pemuka agama. Selain itu, kepala kerbau yang akan dilarungkan, sebelumnya telah disembelih sesuai aturan agama dan diniatkan untuk dimakan oleh ikan-ikan yang ada di lautan.

Pergeseran tujuan dan niat ini membuat upacara ngumbai lawok kembali hidup dan menjadi salah satu promosi untuk yang menarik minat para wisatawan untuk datang ke Lampung. Upacara ini dilakukan setahun sekali. Jika Anda berminat menyaksikannya, pastikan tidak salah jadwal, ya.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here