Ndikkar Seni Bela Diri Silat Dari Suku Karo

0
157
Ndikkar Seni Bela Diri Silat Dari Suku Karo

Ndikkar Seni Bela Diri Silat merupakan salah satu warisan budaya dari suku Karo yang telah diwariskan secara turun temurun. Seni bela diri ini merupakan salah satu bentuk perlindungan diri yang telah digunakan oleh masyarakat suku Karo sejak dahulu kala. Dengan gerakan dan teknik yang unik, Ndikkar Seni Bela Diri Silat tidak hanya berfungsi sebagai alat pertahanan diri, tetapi juga sebagai sarana untuk memperkuat jiwa dan mental para praktisinya.

Bela diri ndikkar merupakan tradisi ketubuhan salah satu etnis yang mendiami dataran tinggi Sumatera Utara yakni Etnis Karo. Ndikkar terlahir dari kehidupan masyarakat agraris yang mengenal sawah dan ladang serta telah mengenal prinsip kepemilikan lahan.

Prinsip kepemilikan lahan dari masyarakat Karo ini mengakibatkan jarak antar rumah dalam sebuah urung terpaut cukup jauh karena setiap keluarga punya tempat tinggal dan ladang yang berada dalam satu kawasan yang biasanya hanya terdiri dari 5 kepala keluarga.

Dengan kondisi ladang yang masih tampak seperti hutan itu, masyarakat Karo merasa waswas atas ancaman yang mungkin saja datang dari hewan buas yang bersembunyi di ladang mereka, baik yang dapat mencelakai diri atau mengganggu tanaman di ladang mereka.

Belajar Dari Alam

Belajar dari alam, masyarakat Karo mengembangkan intuisi purbawinya melalui ndikkar, mekanisme pertahanan diri terhadap serangan binatang buas sekaligus cara beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Pada tataran ini, ndikkar tidak difungsikan untuk bertarung dengan manusia, melainkan respon terhadap rangsangan lingkungan sekitar.

Sebagai sebuah mekanisme pertahanan diri, ndikkar telah berulang kali beralih fungsi dari pertahanan diri terhadap alam, perlindungan diri terhadap penjajah, hingga statusnya saat ini sebagai komoditas pariwisata. Saat ini, ndikkar sedang berdiri di atas identitas yang gamang, sebagian masyarakat mengenalnya sebagai tarian dan sebagian lainnya mengetahuinya sebagai seni bela diri asli masyarakat Karo. Kondisi gamang ini berakar pada permasalahan yang cukup pelik, mengingat posisi ndikkar saat ini yang kurang dipahami oleh masyarakatnya sendiri.

Disarikan dari hasil wawancara penulis dengan Simpei Sinulingga (2022), ndikkar kehilangan pendukungnya dikarenakan banyak hal, di antaranya lantaran adanya pertentangan nilai budaya dengan agama. Simpei yang merupakan salah satu pandikkar (sebutan untuk orang yang menguasai ndikkar) menuturkan adanya larangan terkait persyaratan berguru bagi muridnya, seperti larangan bersumpah dan larangan menyembelih ayam hitam. Pertentangan tersebut berimbas pada enggannya para guru ndikkar menerima murid yang berimbas pada hilangnya keterikatan antara guru dan murid disebabkan hilangnya ritual tersebut.

Selain itu, maraknya ilmu bela diri impor membuat generasi muda lebih tertarik pada seni bela diri yang sudah tertata kurikulumnya dibandingkan menyelami ndikkar yang terlahir dari jati diri bangsanya. Dampak dari minimnya minat generasi muda pada ndikkar memudarkan eksistensinya secara perlahan.

Filosofi Ndikkar

Padahal, bila ditilik lebih dalam, setiap gerak atau jurus yang terdapat pada ndikkar merupakan cerminan kearifan lokal masyarakat Karo. Dalam tulisan ini penulis mencoba menginventarisir jurus-jurus yang terdapat dalam ndikkar dan nilai kearifan lokal yang terkandung di dalamnya. Berikut ini adalah jurus-jurus yang terdapat dalam ndikkar:

Dalam jurus ini, pandikkar dituntut agar tidak ‘memakan ayam persumpahannya’ sebagaimana tujuan ndikkar yakni ilmu bela diri yang digunakan di jalan kebaikan.

Kaki ditekuk ke depan dan ke belakang sambil menggerakkan bagian tubuh dan melangkah perlahan sebanyak 7 kali. Langkah Sipitu Pitu terkait dengan aturan dalam melangkah dan memperlakukan tanah Karo. Sehingga, masyarakatnya dihimbau untuk mempelajari dan menghadapi alam dengan bijaksana.

Secara filosofis, gerakan ini dianalogikan seperti bintang yang hanya muncul ketika malam hari dan setiap kemunculannya menghasilkan cahaya terang. Di dalam jurus ini juga diajarkan untuk membaca momen yang tepat untuk menyerang balik tubuh lawan bagian atas.

Makna yang terkandung dalam jurus ini adalah melawan ketika sudah terdesak dan ketika menyerang harus tepat sasaran karena seorang pandikkar tidak boleh melukai sebelum dilukai oleh lawannya. Jurus ini diibaratkan seperti gerakan harimau yang tetap bergerak fleksibel dan akurat sebagai bentuk pertahanan diri.

Makna yang terkandung dalam jurus ini adalah kerendahan hati yang harus dimiliki masyarakat Karo dan kemurahan dalam membagi ilmunya. Dalam Langkah Meteruk,  seorang pandikkar harus selalu bergerak dari bawah agar lebih cermat melihat kelemahaan lawan.

Gerakan ini bermakna bahwa setiap tindakanharus tersusun dan terarah serta harus mengukur terlebih dahulu keadaan lawan untuk mengambil gerakan menyerang balik. Gerakan ini dipelajari orang Karo dari susunan daun sirih (kepit kepit belo) yang tersusun dari daun terkecil hingga yang paling besar. Daun Sirih harus tersusun sesuai ukurannya agar tidak merusak susunan yang ada sebagai tanda bahwa kita perlu menakar segala sesuatu dengan teliti.

Gerakan ini diambil dari tradisi menyadap enau yang dilakukan dengan caramemukul buah enau secara terus-menerus hingga mengeluarkan air. Makna yang terkandung dalam jurus ini adalah sifat sabar dan ulet yang harus dimiliki orang Karo agar mendapatkan hasil yang baik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here