Catatan Sejarah di Balik Rencana Baru Stasiun Manggarai

0
16
catatan sejarah stasiun manggarai

Melalui Menteri Perhubungan (Menhub), Pemerintah Indonesia mengungkapkan rencana untuk menjadikan Stasiun Manggarai sebagai pusat stasiun (central station) kereta api. Rencana tersebut diumumkan Menhub, Budi Karya pada awal Oktober kemarin.

Stasiun yang diresmikan oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1918 ini, rencananya akan menggantikan peran Stasiun Gambir yang saat ini masih stasiun utama. Untuk merealisasikan rencana tersebut, sejumlah pembangunan baru pun dilakukan, termasuk penambahan jalur rel kereta api.

Akibat dari rencana ini, Stasiun Manggarai nantinya bakal jadi stasiun paling sibuk di Indonesia mulai tahun 2021 mendatang. Pasalnya, tempat ini akan menjadi titik terpadu yang melayani jalur kereta api jarak jauh dan jarak dekat, seperti KRL se-jabodetabek.

Salah satu penambahan rel yang bakal dibangun adalah jalur KRL (Commuter Line) langsung menuju Bandara Soekarno-Hatta. Tidak hanya itu, integrasi dengan halte Transjakarta dan jembatan multiguna juga dibangun untuk melengkapi ketersediaan infrastrukturnya.

Namun, apa yang sebenarnya membuat Stasiun Manggarai ini begitu menarik perhatian? Di manakah letak keistimewaannya sehingga stasiun ini masuk dalam rencana baru menteri perhubungan?

1. Catatan Sejarah Stasiun Manggarai Berusia Seratus Tahun

Kendati rencana ini masih menuai pro-kontra, Stasiun Manggarai sendiri merupakan salah satu stasiun kereta api yang diperkaya dengan nilai sejarah yang berharga bagi Indonesia. Sisi historis yang menyisip salah satunya ada pada usianya yang sudah mencapai satu abad lebih.

2. Peresmiannya Bertepatan Dengan Hari Buruh

Stasiun Manggarai sendiri mulai dibangun pada tahun 1914, sejak perusahaan kereta api negara Staatsspoor en Tramwegen (SS) memonopoli seluruh jaringan rel kereta api di Batavia (Jakarta). Pembangunannya pun dipimpin oleh  Ir. J. Van Gendt, arsitek asal Belanda, bertepatan pada hari buruh (May Day) 1 Mei 1918.

3. Punya Kedekatan Dengan Nusa Tenggara Timur

Konon, daerah Manggarai di Jakarta disebutkan memiliki relasi dengan Manggarai di Nusa Tenggara Timu (NTT). Tulisan Gerson Poyk dalam Poti Wolo (1988:9) mengungkapkan bahwa daerah Manggarai di Jakarta dulunya adalah wilayah perkampungan yang dihuni budak-budak pekerja dari Manggarai, NTT.

Ada juga rujukan lain yang diterangkan oleh Rachmat Ruchiat dalam Asal Usul Nama Tempat di Jakarta (2018:80). Ia menyebutkan bahwa di sekitar kelurahan Manggarai terdapat tarian Lenggo yang dibawa oleh orang-orang Flores Barat, NTT sebelum pecahnya era Perang Dunia II.

4. Titik Penting Berpindahnya Status Ibu Kota

Tanggal 3 September 1945, kendali atas Stasiun Manggarai diambil alih ketika adanya gelombang revolusi dari para pemuda yang tergabung dalam Angkatan Muda Kereta Api (AMKA). Setelah dikuasai oleh kaum buruh pemuda, stasiun ini menjadi titik penting tempat para pemimpin Republik berpindah ke Yogyakarta pada 3 Januari di tahun selanjutnya.

Stasiun Manggarai pun ikut menjadi saksi bagaimana buruh-buruh muda yang tergabung dalam AMKA tersebut meloloskan keberangkatan rombongan Presiden Soekarno dalam perjalanan jalur Kereta Luar Biasa (KLB) dari Stasiun Manggarai menuju Yogyakarta. Perpindahan para pemimpin itu mengikuti bergantinya status Ibu Kota Negara Indonesia dari Batavia ke Yogyakarta.

5. Dikukuhkan Sebagai Cagar Budaya

Memiliki nilai historis yang tinggi membuat Stasiun Manggarai ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya. Pengukuhan tersebut juga mengacu pada fakta catatan sejarah Stasiun Manggarai bahwa stasiun ini dibangun pada masa Hindia Belanda. Hal itu juga nampak jelas dari gaya arsitektur yang ditampilkannya.

Arsitektur lawas bergaya Belanda yang membalutnya turut menjadikannya sebuah bangunan bersejarah yang harus dijaga keutuhannya. Ditetapkannya stasiun ini sebagai cagar budaya tidak lepas dari SK Gubernur No. 475 th. 1993, Minister of Tourism No. 011/M/1999, dan SK Menbudpar No: PM.13/PW.007/MKP/05 th. 2005.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here