Sebentar Lagi Ramadhan, Tradisi Nyadran Segera Digelar

0
19
nyadran

Ramadhan sebentar lagi, melihat penanggalan Hijriah dengan kalender sekerang. Bulan puasa ini akan datang kurang dari 100 hari lagi. Nyadran, sebagai tradisi yang sering dan masih dilakukan oleh sebagain masyarakat di Jawa Tengah ini pun siap mereka gelar untuk menyambut bualan penuh berkah.

Di Jawa Tengah, ada prosesi yang harus dilakukan sebelum bulan puasa. Prosesi ini diadakan untuk menyambut datangnya bulan suci umat Islam. Masyarakat di Sebagian Jawa Tengah mengadakan ritual ini dengan mendatangi makam keluarga untuk berziarah. Tradisi ini juga sepertinya terjadi didaerah lain tetapi dengan sebutan berbeda.

Hanya saja tradisi ziarah atau nyekar ke kuburan keluarga terdekat ini memiliki beberapa hal yang berbeda dengan masyrakat Indonesia yang lainnya. Apa sih yang menyebabkan Nyadran berbeda? Yuk kenalan lebih lanjut.

Tradisi Nyadran

Tradisi ini biasanya dilakukan beberapa hari tepat setelah diketahui bahwa Ramadhan akan segera berlangsung. Serangkaian acara dilakukan sebagai rentetan aktivitas pada tradisi ini seperti membersihkan makam, ngaji, doa dan makan-makan.

Bersih-bersih makam dan baca doa

Warga secara kompak dan sukarela akan keluar dari rumah masing-masing pada hari itu. Berjalan beriringan menuju tempat yang sama yaitu makam tempat keluarga mereka diistirahatkan untuk yang terakhir kalinya. Makam keluarga masing-masing dibersihkan dengan seksama hingga tidak ada satupun rumput liar yang menancap di atasnya.

Selanjtnya, setiap orang akan berdoa untuk keluarganya masing-masing dengan membacakan ayat Al Quran di samping makam keluarga mereka. Dilanjutkan dengan zikir, tahlil dan doa pamungkas. Selesai dengan acara ini, para peserta akan berkumpul untuk melakukan kegiatan makan bersama sebagai wujud rasa syukur karena masih berkumpul.

Manfaat Nyadran

Budaya yang sebetulnya merupakan budaya hasil dari kreatif masyarakat, bukan budaya Islam ini. Jika diteliti lebih lanjut, memiliki ragam manfaat baik untuk semua pesertanya. Adapun manfaat yang dirasakan masyarakat adalah sebagai berikut:

Arwah keluarga menjadi tentram

Tradisi yang seringnya dilakukan oleh masyarakat di Jawa Tengah ini mempercayai bahwa dengan mendoakan keluarga yang telah tiada, akan menentramkan arwah mereka. Ayat-ayat suci, zikir dan tahlil serta doa-doa yang mereka sampaikan di waktu itu senantiasa mereka khususkan agar Allah menghapuskan segala dosa keluarga yang telah meninggalkan mereka lebih dulu.

Mereka juga berharap Allah memberikan kelapangan dan ketentraman kepada kubur keluarga yang telah meninggal. Ini tentu saja mungkin tidak akan dilakukan serempak jika tidak menjadi budaya dan tradisi di sana.

Kebersamaan

Melihat lingkup masyarakat perkotaan yang senantiasa hidup dengan kesibukan. Berkumpul bersama tetangga mungkin menjadi pemandangan yang sangat jarang sekali. Kalaupun ada libur, biasanya keluarga memanfaatkannya untuk mengajak anggota keluarga lain untuk liburan ke tempat wisata. Apalagi ketika libur lebaran. Pastinya rumah menjadi tujuan rata-rata masyarakat kota untuk mudik.

Tradisi seperti itu sejatinya akan mengikat kebersamaan diantara masing-masing penduduk. Apalagi mereka mengadakannya dengan cara berjamaah. Berbondong-bondong mendatangi makam keluarga masing-masing, berjalan seiringan. Sesuatu yang sangat jarang terjadi di masayarakat perkotaan.

Kebersaamaan seperti ini juga terjalin ketika prosesi makan-makan bersama berlangsung. Meski membawa maknan masing-masing untuk keluarga. Biasanya akan ada inisiatif untuk saling mencicipi masakan yang dibawa oleh tetangga mereka. Komunikasi cair pun akan terjalin diantara satu keluarga dengan keluarg lain secara alami.

Ramadhan tahun ini menjadi Ramadhan yang pastinya akan mereka tunggu mengingat manfaat-manfaat yang bisa didapatkan pada tradisi Nyadran ini.

Niagahoster

Tinggalkan Balasan