Profil dan Biografi Lengkap Tuanku Imam Bonjol

0
59
Profil dan Biografi Lengkap Tuanku Imam Bonjol

Sudah sepatutnya masyarakat di Indonesia mengetahui sosok yang bernama Tuanku Imam Bonjol. Seorang ulama pemberani yang memimpin dan berjuang untuk melawan Belanda tahun 1803 hingga 1838.

Imam Bonjol dikenal santun di kalangan masyarakat saat itu. Namun tak kenal kompromi jika urusannya mengenai Belanda. Keteguhan dan perjuangan Imam Bonjol bisa menjadi pelajaran penting untuk diteladani hingga saat ini.

Biografi Tuanku Imam Bonjol

Nama asli yang sebenarnya adalah Muhammad Shahab, lahir tahun 1772 di Sumatera Barat. Ayah Imam Bonjol adalah seorang ulama karismatik yang berasal dari Nagari Sungai Rimbang, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat.

Tuanku Imam Bonjol mempelajari agama islam secara mendalam di Aceh, kemudian mendapatkan gelar Minan Basa disana. Beranjak dewasa, keilmuannya semakin tinggi hingga mendapatkan gelar untuk Imam Bonjol seperti Peto Syarif, Malin Basa hingga Tuanku Imam.

Nama Imam Bonjol memiliki sedikit cerita yang tak banyak diketahui orang-orang. Tuanku nan Renceh dari Kamang Agam menunjuknya untuk menjadi Imam bagi kaum Padri di Bonjol. Dari situlah nama Imam Bonjol lahir.

Jadi Pemimpin Perang Padri

Penjajahan Hindia Belanda saat itu terus berlangsung, Tuanku Imam Bonjol melakukan perlawanan yang sengit. Perang Padri merupakan perang yang cukup lama, Imam Bonjol memimpinnya dari 1803 hingga 1838.

Sayangnya perang ini lebih dikenal sebagai perang saudara di Sumatera. Alasannya karena kaum Padri yang menginginkan penegakan hukum sesuai syariat Islam mendapat pertentangan oleh kaum kerajaan Pagaruyung.

Situasi semakin memburuk, kaum adat dinilai pernah meminta bantuan Belanda untuk ikut berperang melawan kaum Padri. Belanda hampir dibuat kocar-kacir karena kesulitan melawan Imam Bonjol dan pasukannya.

Perang sempat mereda karena Imam Bonjol menandatangani perdamaian dengan Belanda sesuai Perjanjian Masang tahun 1824. Tak lama kemudian perdamaian berakhir, Perang kembali berlangsung setelah Belanda melakukan penyerangan.

Babak baru dimulai, Perang Padri tak lagi disebut Perang Saudara. Kedua kaum tersebut yakni Kaum Adat dan Kaum Padri menyatukan kekuatan untuk melawan Belanda. Keduanya menyadari bahwa Peperangan tersebut telah menyengsarakan rakyat.

Benteng kaum Padri dikepung, Belanda terus menyerang selama kurang lebih enam bulan lamanya. Bagaimana akhir dari Perjuangan Imam Bonjol dan Perang Padri tersebut?

Tertangkap Dan Akhir Perang Padri

Tepatnya 16 Agustus 1837, benteng Bonjol berhasil dikuasai oleh Belanda. Kemudian Belanda juga menangkap Imam Bonjol untuk mengadakan perundingan pada Oktober 1837 di Palupuh.

Akhirnya ia diasingkan di Cianjur Jawa Barat. Tidak hanya di Cianjur, Imam Bonjol dibawa ke Ambon dan berakhir di Lotak, Minahasa. dan Imam Bonjol wafat pada 8 November 1864.

Diabadikan Pada Uang Rupiah

Agar masyarakat di Indonesia bisa meneladani keberanian dan perjuangan Imam Bonjol, akhirnya Pemerintah mengangkat Tuanku Imam Bonjol sebagai Pahlawan Nasional. Pada 6 November 1973, gelar tersebut resmi disematkan pada dirinya.

Di berbagai Daerah, banyak yang menggunakan nama Imam Bonjol sebagai nama jalan. Tak hanya itu wajahnya pun diabadikan dalam gambar uang rupiah pecahan Rp. 5.000 sejak 2001 silam.

lukisan tuanku imam bonjol dalam uang 5000

Pada bagian depan uang tersebut terdapat gambar wajah dirinya. Kemudian untuk bagian belakangnya terdapat gambar pengrajin tenun Pandai Sikek.

Sosok Tuanku Imam Bonjol bisa menjadi teladan untuk anak-anak di zaman sekarang. Salah seorang pemimpin berani, santun, memiliki nilai dan ilmu agama yang kuat. Semoga Bermanfaat.

Tinggalkan Balasan