Pintu Masuk Solo itu Bekas Tempat Jemuran

1
16
kota solo

Menjadi salah satu kota populer di Jawa Tengah, Solo selalu bisa menjadi magnet untuk dikunjungi berkat daya tariknya yang sangat beragam. Selain dikenal sebagai kota dengan sejarah budaya, Solo juga terkenal sebagai salah satu pusat industri batik yang masif di Indonesia.

Tidak hanya soal tradisi yang masih sangat dipegang teguh oleh warganya, kota ini juga memiliki potensi wisata yang tidak kalah dengan daerah-daerah wisata lainnya. Misalnya saja Yogyakarta, bukan rahasia lagi kalau daerah istimewa itu punya saingan terdekatnya, yakni Kota Surakarta alias Solo.

Nah, sebagai salah satu daerah tujuan wisata, tentu Solo perlu menyediakan aksesbilitas untuk para pelancong yang akan singgah untuk menikmati setiap atraksi wisata yang disuguhkan. Oleh karena itu, Bandara Adi Soemarmo menjadi salah satu pintu masuk besar yang menyambut kedatangan para pendatang.

Sejarah yang Luput dari Ingatan

Mungkin, Solo memang merupakan salah satu kota yang mengandalkan nilai-nilai sejarah untuk mengundang banyak orang berdatangan. Namun, siapa sangka kalau sejarah tentang Bandara Adi Soemarmo sendiri bisa dikatakan luput dari ingatan. Sebuah sejarah yang jarang atau tidak banyak diketahui publik.

Banyak orang barangkali hanya sebatas mengetahuinya sebagai sebuah peninggalan pangkalan udara militer yang kemudian disulap menjadi bandara udara komersil. Padahal nih, tidak hanya sebatas itu saja, tentang bagaimana bandara ini akhirnya berdiri seperti sekarang ini.

Punya Saudara Sebaya di Yogyakarta

Solo dan Yogyakarta diibaratkan layaknya sepasang saudara kembar, serupa tapi berbeda. Berbeda tapi serupa. Kemiripan keduanya memang datang dari kultur budaya yang saling berhubungan erat. Hal itupun turut mempengaruhi pembangunan yang berada di kedua tempat tersebut dilakukan.

Bandara Adi Soemarmo dahulunya bernama Pangkalan Udara Panasan yang didirikan oleh pemerintah Belanda pada tahun 1940. Berdirinya bandara tersebut bersamaan dengan pembangunan pangkalan udara Maguwo di Yogyakarta. Hingga kini, Bandara Adi Soemarmo seperti memiliki saudara sebaya, yakni Bandara Maguwo yang kini diberi nama Bandara Adi Sutjipto.

Jadi Rebutan Belanda dan Jepang

Beberapa tahun sebelum Indonesia merengkuh kemerdekaannya, pemerintah Belanda disibukan oleh tindakan mengantisipasi serangan lawan ketika Perang Pasifik pecah. Jepang yang kala itu menjadi negara adikuasa di Asia dianggap sebagai lawan yang membahayakan pengaruh politik Belanda di Nusantara.

Pendirian pangkalan udara Adi Soemarmo yang saat itu masih bernama “Panasan” merupakan salah satu tindakan antisipatif Belanda. Namun, Jepang lebih dulu mendarat di Surakarta pada 1942, sebelum pangkalan udara tersebut benar-benar bisa difungsikan.

Tanah Bekas Kampung Panasan

Hingga 1945 Jepang berkuasa, pembangunannya pun dilanjutkan dan dijadikan pangkalan udara Kaigun Bokhusa (angkatan laut militer Jepang). Setelahnya, laskar perjuangan Solo berhasil melancarkan serangan yang mengakibatkan pangkalan udara Panasan porak-poranda ketika Agresi Militer I berlangsung tahun 1947.

Setelah mangkrak terbengkalai hingga pengujung tahun 1950-an, pangkalan udara ini pun resmi beroperasi kembali sebagai Pusat Pendidikan Kemiliteran Angkatan Udara (PPKAU). Sebelum berubah nama, pangkal udara ini lazim disebut “Panasan”, lantaran letaknya berada di atas tanah bekas kampung Panasan berdiri.

Berubah Berkat Adanya Potensi Wisata

Arti dari kata: “Panasan” sendiri bisa dirujuk dari terminologi bahasa dari kamus Bausastra Jawa gubahan Poerwadarminta (1939). Kata tersebut merupakan gambaran dari tanah lapang yang panas terik, sehingga kerap digunakan warga setempat untuk menjemur, baik pakaian maupun bahan makanan.

Perjalanan sejarah pangkalan udara ini akhirnya berubah ketika pemerintah Indonesia meresmikannya sebagai bandara komersil pada 24 Maret 1974. Hal ini merupakan buah dari kesadaran pemerintah bahwa Solo dan sekitarnya adalah area yang potensial dalam aspek ekonomi-pariwisata.

Picu Lonjakan Jumlah Kunjungan Turis

Hasilnya, pengujung akhir 1970-an Solo memperolah angka kunjungan wisatawan yang melonjak signifikan. Torehan itu dirujuk dari artikel “Solo Dalam Pariwisata” dari Majalah Media Wisata edisi Agustus 1980. Sejak 1976, tercatat jumlah wisatawan yang datang mencapai 139.956, sebanyak 6.281 orang di antaranya adalah turis asing.

Grafik kunjungan itu pun terus memperlihatkan lonjakan secara bertahap. Pada tahun 1979, ada sekitar 209.266 orang, termasuk 9.800 lebih adalah wisatawan mancanegara. Angka itu melonjak dari tahun sebelumnya yang mencatatkan 179.149 wisatawan.

Siapa yang menyangka bandara Internasional Adi Soemarmo yang dulunya adalah tanah lapang yang digunakan sebagai tempat jemuran itu, kini menjadi pintu gerbangnya kota Solo. Dan, kota ini mungkin sudah terbiasa menyambut jutaan kunjungan setiap tahunnya.

Kiprahnya kini tentu sudah jauh berkembang dari awal masa berdirinya dulu. Dari basis urusan militer, menjadi gerbang sambutan para pelancong yang bakal dimanjakan oleh pesona menawan dari sebuah kota.

1 KOMENTAR

  1. Unik juga ya, kalau bukan karena sering blog walking, kayaknya saya belum akan tahu hal seperti ini:D
    Hal-hal yang terlihat biasa ternyata punya cerita luar biasa ya 🙂

Tinggalkan Balasan