Menggali Filosofi Wayang

0
8
filosofi wayang

Wayang merupakan kesenian tradisional terkenal di Indonesia, khususnya pulau Jawa. Selain sebagai hiburan, Wayang memiliki makna filosofi dalam. Sehingga setiap orang mampu memetik pelajaran setiap pentas Wayang. Setiap Wayang dipentaskan, sama saja kehidupan manusia di muka bumi telah ditampilkan. Wayang secara filosofi berarti wewayanganing ngaurip (gambaran kehidupan di dunia). Wayang memberikan gambaran kehidupan manusia dengan segala permasalahan dan tantangan. Selain menyimpan makna estetika, Wayang memberi tafsir kehidupan masyarakat Jawa.

Hal ini sesuai penelitian Franz Magnis Suseno SJ, seorang sarjana Filsafat yang mendalami kebudayaan Jawa. Dia mengungkapkan bahwa kebudayaan Jawa memiliki hubungan dekat dengan kehidupan masyarakat. Seperti wayang, dalam skenario pentas selalu memberi pesan moral, budi pekerti, adat istiadat dan kehidupan sosial. Makna dan filosofi yang terselip dari kesenian wayang diantaranya yakni:

1. Dalang                                                     

Setiap pentas wayang selalu ada Dalang. Dialah yang mengendalikan seluruh alur cerita. Tanpa Dalang, maka Wayang tidak bisa dipentaskan. Dalam kehidupan, Dalang bisa diartikan sebagai Tuhan yang mengatur skenario kehidupan, hidup mati, sifat manusia, serta peran setiap wayang.

2. Wayang

Wayang terbuat dari kulit kerbuat yang dibentuk seperti boneka. Wayang memiliki berbagai jenis tokoh dan memiliki karakter baik dan buruk. Wayang dalam kehidupan diartikan sebagai manusia. Sosok manusia yang memiliki hawa nafsu, emosi, pintar, baik, buruk, suka jail dan lain sebagainya.

3. Beber (layar putih yang membentang dibelakang wayang)

Beber adalah panggambaran langit, bumi dan seisinya yang memberikan makna bahwa kehidupan ini sebenarnya kosong. Akan tetapi semua akan berubah ketika Dalang sudah menghendaki bahwa wayang, gunungan, kecrek, gamelan dan sebagainya muncul.

4. Gunungan

Gunungan terdapat dua macam yakni yang ditempatkan di kanan dan kiri. Gunungan digambarkan sebagai bumi dan seisinya. Dalam gunungan terdapat gambar gunung, pepohonan, hewan, dan sungai yang mengalir. Ketika awal pentas, gunungan akan di tancapkan di tengah-tengah. Hal tersebut manandakan bahwa kehidupan di bumi telah dimulai.

5. Simpingan Kiwo Tengen

Simpingan Kiwo Tengen merupakan letak wayang berada di kanan dan kiri setiap penonton. Kanan merupakan wayang yang memiliki perbuatan baik seperti Pandawa, Punokawan, Anoman, Shinta dan sebagainya, sedangkan kiri diperuntukkan wayang yang memiliki watak jahat seperti Buta Cakil, Sengkuni, Durno, dan Kancil.

6. Kotak

Kotak memiliki arti wujud paru-paru atau nafas setiap manusia. Setiap Dalang mengalunkan irama ketukan, disitulah Wayang atau orang bernafas.  Mereka memiliki jeda setiap berbicara.

7. Kecrek

Kecrek merupakan suara musik yang berasal dari Dalang. Suara tersebut memiliki arti aliran darah. Bahwa setiap kehidupan di dunia ini yang hidup darahnya selalu mengalir. Walaupun berwatak baik atau buruk, mereka tetap memiliki darah yang selalu mengalir.

8. Gamelan

Setiap pentas Wayang diisi suara gamelan. Makna filosofis dari gamelan yakni kebutuhan primer. Setiap manusia memiliki kebutuhan primer yang harus dipenuhi, seperti makan, minum, mandi, berpakaian dan beribadah. Maka dari itu, tanpa gamelan maka wayang tidak bisa dimainkan. Walaupun gamelan hanya memberikan musik klasik, tetapi makna tersebut cukup memiliki karakter kuat.

9. Blencong

Blencong yakni lampu yang dipantulkan dari atas sehingga ketika wayang dipentaskan ditengah-tengah geber akan memantul hitam. Sehingga Wayang dapat disaksikan penonton dari depan maupun belakang. Blencong sendiri memiliki makna sumber cahaya dari Tuhan Yang Maha Esa. Dalam kehidupan manusia pasti ada sosok Tuhan yang berperan. Tuhan akan memberi cahaya agar manusia mampu meniti ke jalan yang baik. Mampu menjalankan kebaikan dan mencegah keburukan.

Tinggalkan Balasan