Mengenal Kota Solo dan Sejarahnya

0
7
kota solo

Sebagai Kota Tua dan menjadi bagian dari sejarah panjang berdirinya Negara Republik Indonesia, nama Kota Solo atau Surakarta tentu sudah asing lagi di telinga masyarakat Indonesia.

Apalagi Solo merupakan salah satu pusat Kebudayaan Jawa selain Yogyakarta yang hingga kini masih tetap menjaga dan melestarikan adat, budaya dan tradisi Jawa seperti Upacara Sekaten, Grebeg Sudiro, Grebeg Mulud, Tinggalan Dalem Jumenengan, Grebeg Pasa, Syawalan, Grebeg Besar serta yang lain. Sehingga tidak salah jika kota ini memiliki slogan “The Spirit of Java”.

Solo juga telah melahirkan sejumlah tokoh besar di tanah air, seperti Rangga Warsita, Radjiman Widyodiningrat, Gesang, Basuki Abdullah, W.S Rendra, Waljinah, Wahjoe Sardono, Icuk Sugiarto, Wiranto, Amien Rais dan masih banyak lagi yang lain. Salah satu tokoh besar yang lahir di Solo tersebut adalah Presiden ke-7 Republik Indonesia, yang bahkan pernah menjabat sebagai Walikota Surakarta.

Deskripsi Singkat tentang Solo

Kota Solo

Secara administratif Solo merupakan bagian dari Provinsi Jawa Tengah yang memiliki luas 44 km2 dan terbagi atas 5 kecamatan yaitu Kecamatan Pasar Kliwon, Jebres, Banjarsari, Lawiyan dan Serengan.

Kota ini dikelilingi oleh sejumlah gunung berapi yaitu Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Lawu dan Pegunungan Sewu serta dilintasi oleh sungai terpanjang di Pulau Jawa yaitu Bengawan Solo dan beberapa sungai besar, seperti Kali Pepe, Kali Anyar dan Kali Jenes. Karena itulah komposisi tanahnya bersifat pasiran dan kaya akan mineral muda yang sangat baik untuk budidaya tanaman pangan.

Meski Surakarta sendiri memiliki wilayah yang sempit, namun keberadaannya disokong oleh kota-kota satelit yang sebelumnya merupakan bagian dari Karesidenan Surakarta, yaitu Kota Kartasura, Ngemplak, Solo Baru, Colomadu, Palur dan Baki.

Surakarta dan kota-kota satelit tersebut dikenal dengan sebutan Solo Raya dan menjadi kawasan yang saling berintegrasi serta membentuk satu kesatuan sehingga menjadi sebuah kawasan kota besar yang terpusat dengan luas wilayah sekitar 150 km2.

Sejarah Singkat Berdirinya Kota Solo

Kota Solo

Sejarah berdirinya Kota Solo bermula dari pemberontakan orang-orang Cina yang dipimpin Sunan Kuning dan didukung Raden Mas Said. Pemberontakan terhadap Keraton Kartasura tersebut dipicu oleh amarah dan rasa kecewa terhadap kebijakan Sunan Pakubuana yang memangkas daerah Sukowati.

Serangan yang dilakukan orang-orang Cina berhasil menjebol benteng keraton dan memakan banyak korban jiwa. Akibat dari pemberontakan tersebut, bangunan keraton hancur dan barang-barang berharga milik keraton dijarah oleh para pemberontak. Sehingga Sunan Pakubuana bersama kerabat keraton pun mengungsi ke Ponorogo dan Pacitan yang ada di wilayah Jawa Timur.

Terusirnya keluarga keraton hingga ke wilayah Jawa Timur, membuat Adipati Bagus Suroto yang memimpin Kadipaten Ponorogo marah. Diapun memimpin para prajuritnya untuk membantu prajurit Kartasura menumpas pemberontak. Setelah terjadi peperangan yang seru, para pemberontak akhirnya berhasil ditumpas.

Setelah pemberontakan berhasil dipadamkan, Sunan Pakubuana memerintahkan 5 orang yang disebut narapraja untuk mencari lokasi baru guna mendirikan pusat pemerintahan, mengingat kondisi keraton yang lama sudah tidak memungkinkan untuk ditempati.

Akhirnya terpilihlah Desa Sala yang letaknya sekitar 10 km dari lokasi keraton lama. Dipilihnya Desa Sala karena berada di dekat Sungai Bengawan Solo yang memiliki fungsi penting dalam hal ekonomi, militer, politik serta hubungan sosial.

Menurut Babad Sengkala, desa tersebut dinamakan Desa Sala karena dahulu banyak tumbuh tanaman sejenis pohon pinus yang bernama Pohon Sala. Selain itu, di desa tersebut juga tinggal seorang tokoh bernama Kyai Sala yang dikenal bijaksana dan dihormati warga sekitar.

Tepat pada tanggal 18 Pebruari 1745, Pusat Keraton Kartasura pindah ke Desa Sala. Karena menjadi pusat pemerintahan, maka daerah inipun berkembang dengan sangat pesat yang kini menjelma menjadi sebuah kota besar. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here