Mengenal Keris Sebagai Pusaka Orang Jawa

6
56
keris jawa

Jawa, selain sebagai etnis juga memiliki kultur lengkap dalam menghadapi tantangan perkembangan zaman. Era sekarang, tidak sedikit masyarakat acuh-tak acuh mengetahui sejarah nenek moyangnya. Bergaya mengikuti trend merupakan salah satu perbuatan yang tidak mencerminkan orang Jawa. Padahal esensi mengikuti perkembangan zaman tidak dapat apa-apa.

Seharusnya sebagai orang Jawa, sudah sepantasnya kita semua njawani, memantaskan diri untuk menjadi orang yang berbudi pekerti luhur sebagaimana tingkah laku yang telah dijalankan nenek moyang kita terdahulu. Setiap ingin melakukan apapun selalu diimbangi dengan tata krama. Maka dari itu orang Jawa memiliki prinsip bahwa setinggi seseorang berilmu jika tidak dibarengi dengan tata krama, maka ia sama saja kosong.

Pusaka Masyarakat Jawa

Mengenai orang Jawa, kita akan menyinggung satu pembahasan yakni tentang pusaka. Orang Jawa dalam bertahan hidup, memiliki satu pusaka yang hingga sekarang masih terkenal. Walaupun hanya beberapa orang yang memiliki, tetapi pusaka ini tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Sebab sepanjang sejarah, pusaka memiliki kisah romantis tersendiri yang harus dikenang.

Sebagaimana kisah Pangeran Diponegoro dengan gagah menunggangi kuda, dan tangan kanannya memegang keris dengan diacungkan ke atas. Hal ini melambangkan bahwa ada semangat membara untuk selalu melawan keburukan dan penindasan. Perjuangan memerdekakan negara Indonesia adalah tujuan utama yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun. Dengan modal semangat kuat dan senjata keris, semuanya keburukan yang ada di Indonesia dapat dikalahkan.

Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang menjadi identitas diri. Keris merupakan satu-satunya senjata yang digunakan oleh orang terdahulu dalam berperang melawan musuh. Lekukan yang terdapat pada keris melambangkan kekuatannya, bahwa siapa saja yang tertusuk olehnya, maka dalam waktu singkat akan mati. Lekukan ini memiliki filosofi buah Simalakama, jika dibiarkan terasa sakit dan jika ditarik maka semakin sakit. Sebab, lekukan tersebut telah melubangi ke tubuh.

Dalam budaya Jawa, selain pusaka khas orang Jawa, keris juga dijadikan simbol kekuasaan. Pada zaman dahulu, setiap raja pasti memiliki keris. Seperti keris bernama Ontokusumo yang didapatkan oleh Sunan Kalijaga, keris Kiai Carubuk yang diciptakan oleh Empu Supa Mandagri seorang pandai besi di era Majapahit, keris Kanjeng Kiai Ageng Kopek yang dimiliki oleh Kasultanan Yogyakarta, dan masih banyak yang lainnya. keris Kanjeng Kiai Angeng Kopek yang sekarang masih ada Kasultanan Yogyakarta dipercaya bahwa hanya Hamengku Buwono atau Raja Yogyakarta saja yang diperbolehkan memegang keris tersebut. keris itu warisan dari Hamengku Buwono I dan diturun-temurunkan hingga sekarang.

Nilai dalam Keris

Setiap keris dipercaya memiliki nilai tersendiri. Ada yang memiliki kekuatan supranatural, sehingga tidak diperbolehkan siapa saja memiliki. Dalam memegang keris pun ada aturan tersendiri. Orang Jawa mengakui bahwa memelihara keris tidak semudah memelihara pusaka lainnya. ada cara tersendiri untuk memperlakukannya. Seperti dimandikan setiap selapan (35 hari) sekali yakni dengan menggunakan jeruk nipis dan air.

Kemudian setelah dimandikan disusul pengeringan dan terakhir diberikan aroma wangi agar keris tetap memiliki energi kuat. Saat proses memandikan keris, siapa saja tidak boleh berada di depannya, hal ini dalam bahasa Jawanya ora ilok (tidak diperbolehkan). Entah alasannya apa, yang pasti menjadi larangan.

Itulah pemahaman pusaka keris yang dimiliki orang Jawa. Bahwa keris bukan sekedar pusaka simbolis saja, tetapi pusaka yang memiliki filosofis tinggi. Tidak sembarang orang memiliki keris. Dan ketika seseorang sudah memiliki keris, sudah kewajiban menjaganya penuh hati-hati. Sebab, seorang Empu dalam menciptakan keris tidak sekedar memandai besi dan menghasilkan wujud saja, tetapi ada ritual tersendiri yang menjadikan keris mampu terbentuk sesuai yang Empu harapkan.

6 KOMENTAR

  1. Saya suka prinsip orang Jawa yang mengutamakan adab daripada ilmu. Untuk apa ilmu setinggi langit kalau tidak punya adab dan etika.
    Btw, informasinya menarik sekali. Saya baru tau kalau keris ternyata se-sakral itu bagi masyarakat Jawa. Sama seperti rencong bagi orang Aceh. Salam

  2. Keris Mpu Gandring yang menurutku paling fenomenal, karena hampir semua raja Singasari mati ditangan keris tersebut.

    Iya sih, tapi di daerah saya sekarang sudah jarang atau malah sudah ngga ada yang punya keris. Kalo waktu kecil aku masih ingat ada tetangga yang punya keris, kesannya angker menurutku..😄

  3. saya rasa masyarakat di Nusantara mempunyai identity tertentu untuk setiap keris yang ditempa. kalau di sini, kalau tak silap saya, hulu keris dan kelok (lengkok keris) mempunyai jumlah tertentu untuk mewakili pihak tertentu. contoh, keris raja berbeza dengan keris milik orang ramai…

Tinggalkan Balasan