Mengenal Agus Salim, Diplomat Hebat dari Sumatera

0
15
haji agus salim

Haji Agus Salim adalah pahlawan Nasional Indonesia yang sangat terkenal karena kemampuannya berdiplomasi. Beliau adalah tokoh yang pertama kalinya menggunakan Bahasa Indonesia dalam Volksraad (Dewan Rakyat). Berikut kisah perjuangan sang diplomat dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Masa Kecil Agus Salim

Haji Agus Salim sesungguhnya terlahir dengan nama Masyudul Haq pada tanggal 8 Oktober 1884 di Kampung Koto Gadang, Bukittinggi, Sumatera Barat. Ketika kecil beliau diasuh oleh seorang pembantu asal Jawa yang memanggilnya dengan “gus” sehingga guru dan teman-temannya memanggilnya “Agus”.

Salim kecil sangat cerdas sehingga menjadi lulusan terbaik saat lulus dari Europese Lagere School (ELS) dan Hogere Burger School (HBS). Bakat istimewanya sudah terlihat sejak masih kecil. Beliau sangat menyukai bahasa asing dan dengan cepat dapat menguasainya.

Menolak Beasiswa

Keinginannya untuk pendidikan kedokteran di Belanda tidak tercapai karena gaji orangtuanya yang sangat kecil. Beliau mengajukan beasiswa tetapi ditolak oleh pemerintah Hindia Belanda.

Kabar tentang pemuda yang cerdas ini terdengar hingga telinga R.A Kartini, yang mendapatkan beasiswa tapi batal berangkat karena akan menikah. R.A Kartini melobi pemerintah Hindia Belanda agar dana tersebut bisa digunakan oleh Salim.

Setelah melalui penolakan dan permohonan ulang yang berproses panjang, akhirnya permohonan ini disetujui. Hanya saja Salim menolak untuk mengambilnya karena merasa beasiswa yang didapatkan ini bukan atas dasar prestasinya, melainkan atas rekomendasi seseorang. Akhirnya beliau memutuskan untuk bekerja.

Berkarir di Pemerintah Hindia Belanda

Karir Salim berawal dari penerjemah dan asisten notaris di sebuah perusahaan pertambangan di Indragiri. Pada tahun 1906, beliau berangkat ke Jeddah dan menjadi penerjemah serta petugas urusan haji di Konsulat Belanda.

Selama tinggal di Jeddah, beliau memperdalam ilmu agama Islam, kemampuan diplomatik, dan belajar bahasa. Hingga pemerintah Hindia Belanda menariknya pulang ke Indonesia pada tahun 1911, Salim sudah menguasai bahasa Arab, Jerman, Jepang, Perancis, dan Turki. Ini di luar bahasa Belanda dan Inggris yang sudah dikuasainya terlebih dahulu.

Terpikat oleh Tjokroaminoto

Haji Agus Salim ditarik pulang ke Indonesia oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk memata-matai organisasi Sarekat Islam pimpinan HOS Tjokroaminoto. Alih-alih menjadi kaki tangan Belanda, setelah mempelajari seluk beluk Sarekat Islam, beliau justru terpikat oleh sosok Tjokroaminoto yang dianggapnya sebagai pemimpin sejati.

Beliau kemudian memutuskan untuk berhenti bekerja sebagai agen intelijen dan pegawai Pemerintah Hindia Belanda, dan bergabung dengan Sarekat islam. Sejak itu kehidupannya yang mapan sebagai pegawai Pemerintah Hindia Belanda sirna, menjadi serba terbatas.

Karir di Jurnalistik

Pada tahun 1915 beliau menjadi redaktur hingga kemudian menjadi kepala redaksi Harian Neratja. Akhirnya beliau menjadi pemimpin harian Hindia Baroe serta mendirikan Surat Kabar Fadjar Asia. Karir jurnalistik berlanjut dengan menjadi redaktur harian Moestika di Yogyakarta dan membuka kantor Penerangan Oemoem.

Menjadi Anggota Volksraad

Pada tahun 1918 parlemen Belanda membentuk Dewan Rakyat (Volksraad). Salim menjadi anggota Volksraad mewakili SI dan terkenal sebagai ahli debat. Karena kemampuannya, Salim berhasil menjadi anggota Volksraad pertama yang berpidato menggunakan bahasa Indonesia.

Kiprah Politik dan Diplomatik

Jelang kemerdekaan Indonesia, Agus Salim terpilih sebagai anggota PPKI dan masuk dalam Panitia Sembilan, tim kecil perumus Pembukaan UUD 1945. Setelah Indonesia merdeka, beliau dipercaya menjabat sebagai menteri dalam beberapa kabinet.

Pada tahun 1947, Salim menjadi penasehat tim perundingan Linggarjati lalu mewakili Indonesia dalam Konferensi Inter-Asia di New Delhi. Misi diplomatik ini berjalan sukses ditandai dengan dukungan penuh dari Pandit Jawaharlal Nehru dan Muhammad Ali Jinnah.

Manuver ini ditanggapi Belanda dengan Agresi Militer I sehingga Salim memimpin delegasi Indonesia ke Timur Tengah. Akibat kepandaiannya berbahasa Arab dan pengetahuan Islamnya yang luar biasa, Indonesia berhasil memperoleh pengakuan kedaulatan formal dari Mesir, Lebanon, dan Suriah.

Demikianlah sedikit kisah tentang Haji Agus Salim. Beberapa perundingan yang dipimpinnya selalu sukses karena keahliannya berdiplomasi. Atas jasanya, pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional di tahun 1961.

Tinggalkan Balasan