Memetik Hikmah Kesultanan Demak

0
142
kesultanan demak

Demak merupakan kesultanan Islam pertama yang berdiri di tanah Jawa. Salah satu hikmah yang dapat dipetik dari berdirinya Kesultanan Demak dan runtuhnya Kerajaan Majapahit adalah makin terbukanya pola pikir masyarakat akademik yang mengkonsentrasikan diri pada dinamika budaya dan agama di tingkat lokal. Fokus bahasan tentang sejarah Islam lokal menjadi trend baru yang mampu memberi tantangan dikalangan para peneliti atau akademis untuk uji dan mengeksplorasi kembali teori-teori besar yang selama ini dianggap mapan dalam mampengaruhi pemikiran masyarakat pribumi.

Kejadian ini tentunya perlu disambung dengan hati yang bahagia, sebab akan mampu membuka tabir yang selama ini masih remang-remang dan belum pakem, sehingga nantinya akan membawa kedalaman pengetahuan akan keunikan, variasi, dan sudut pandang dari aspek sejarah lokal. Usaha untuk mengkaji agama yang menyatu dengan budaya dalam dimensi Islam tentu sangat menarik, selain karena pendakwah (para Wali) yang memiliki cara nyentrik saat menyampaikan nilai Islam di sanubari masyarakat, letak geografis suatu daerah menjadi penentu juga atas tersebarnya visi misi dakwah.

Sejarah Islam Nusantara

Dalam sejarah Islam Nusantara, Demak merupakan embiro islamic of Java. Berbagai strategi terkumpul menyatukan visi misi dan meletup diberbagai daerah. Demak adalah kesultanan Islam pertama di tanah Jawa. Sosok Raden Patah menjadi figur utama dalam sejarah berdirinya kesultanan. Wibawanya yang besar menjadikan Majapahit tenggelam pada masanya. Dalam sejarah mencatat, Kesultanan Demak tidak pernah berniat menumpas Majapahit hanya karena “perbedaan agama”. Namun kuatnya atmosfir ulama menjadikan Islam semakin menonjol di era Kesultanan Demak. Dan dengan sendirinya Majapahit berangsur tenggelam dibawah kekuasaan Kerajaan Demak.

Pamor kesultanan Demak terdorong dari cendekiawan Muslim Nusantara, Walisongo. Jiwa memanusian manusia menjadi pedoman dalam berdakwah. Mereka mampu memasukkan nilai-nilai Islam ke dalam budaya Jawa, yang pada saat itu masih menganut Hindu-Budha. Atas kerja sama yang apik dan pendekatan kultural, Demak mampu menduduki wilayah Jepara, Tuban, Gresik, dan Surabaya. Pada era Raden Patah, Demak memperluas kekuasaanya ke seluruh pesisir pulau Jawa seperti Lasen, Tuban, Sedayu, Gresik, Cirebon, dan Banten.

Secara pemetaan geografis, letak Kesultanan Demak berada di tepi pantai utara Pulau Jawa. Letak yang setrategis ini mengakibatkan sering dikunjungi pedagang-pedagang dari Asing. Hal ini tentunya mendorong Kesultanan Demak semakin maju. Di bidang ekonomi, sosial, budaya, politik, semakin hari semakin tumbuh. Dari salah satu hal inilah yang menjadikan Demak bergaung dengan membawa nama Islam. Secara pemerintahan, Kesultanan Demak memiliki sistem teokrasi, yaitu pemerintahan yang  berlandaskan pada agama Islam. Raja yang menganut ajaran Islam menjadikan rakyatnya mengikuti jejak atasan.

Mesjid Agung Demak

Cepatnya Kesultanan Demak berkembang menjadi pusat perniagaan dan lalu lintas serta pusat kegiatan keagamaan tidak lepas dari andil Masjid Agung Demak. Raden Patah yang dibantu oleh para Wali mampu memperkokoh jati diri Islam dari masjid tersebut. Berbagai kegiatan keagamaan, seperti diskusi, konsultasi, dakwah, ceramah dilakukan di Masjid Agung Demak ini. di sinilah kegiatan Walisongo bertukar pikiran tentang berbagai persoalan sosial. Perluasan wilayah kekuasaan Kesultanan Demak dibarengi oleh kegiatan dakwah Islam ke seluruh Jawa.

Demak menjadi referensi utama atas berkembangnya kerajaan-karajaan selanjutnya seperti Pajang, Banten, Mataram Islam, Kesultanan Yogyakarta dan Kesultanan Surakarta. Dari kesultanan-kesultanan ini memiliki hubungan yang erat, yakni tetap memegang keyakinan beragama Islam dengan mengkoparasikan budaya lokal. Sehingga, masyarakat Jawa dalam beragama tidak harus ngotot seperti orang Timur Tengah, tetapi memiliki cara tersendiri yang tidak kalah baik dari Timur Tengah. Sebab, tanah Jawa memiliki Walisongo yang seorang ulama sekaligus dikenal pelestari budaya lokal.

Tinggalkan Balasan