Macam dan Jenis Rumah Adat Gorontalo

0
5
Macam dan Jenis Rumah Adat Gorontalo

Gorontalo berada di Pulau Sulawesi dengan tata kota khas kolonial yang masih kental. Rumah Adat Gorontalo ada 2 jenis yang sudah dikenal masyarakat yakni Rumah Adat Bantayo Poboide dan Rumah Adat Dulohupa.

Kedua rumah adat tersebut akan Penulis jelaskan di bawah ini secara singkat. Tertarik untuk singgah di Rumah tersebut?

Rumah Adat Bantayo Poboide

Bantayo diartikan sebagai gedung atau bangunan, sedangkan untuk istilah poboide berarti tempat bermusyawarah. Ketika kedua kata tersebut digabungkan maka akan bermakna sebagai bangunan yang digunakan untuk bermusyawarah.

Selain tempat bermusyawarah, gedung tradisional ini sering digunakan untuk kegiatan masyarakat lainnya. Misalnya untuk upacara adat, upacara pernikahan, upacara penerimaan tamu kenegaraan atau kunjungan Presiden dan acara adat lainnya.

Gedung ini dibangun menggunakan material kayu hitam dan kayu coklat kemerahan yang berkualitas tinggi. Kayu tersebut memiliki daya tahan yang kuat, cocok digunakan untuk material bahan bangunan.

Komposisinya sebagai berikut, kayu hitam digunakan pada bagian kusen, pagar balkon, ukiran pada ventilasi udara hingga pegangan tangga. Kayu coklat digunakan pada pintu, jendela, lantai dan dinding.

Rumah Adat Gorontalo Bantayo Poboide memiliki tiang sebanyak 8 buah pada bagian depan. Komposisinya sudah diperhitungkan dengan tepat, 2 tiang untuk bagian luar dan 6 tiang untuk bagian yang lainnya.

Untuk menopang bangunan kebanggaan masyarakat Gorontalo, terdapat 32 tiang dasar (potu) yang menopang bangunan dan menjadi pondasinya. Angka 32 tersebut melambangkan seperti penjuru mata angin.

Lambang tersebut juga menandakan agar penguasa negeri atau daerah harus memperhatikan seluruh kepentingan rakyat tanpa pandang bulu.

Rumah Adat Gorontalo Dulohupa

Jika Bantayo Poboide sebagai tempat musyawarah, maka Dulohupa bisa diartikan sebagai tempat mufakat. Istilah lainnya adalah pengadilan, untuk mengadili individu atau memutuskan perkara yang terjadi semasa kerajaan Gorontalo memerintah.

Dalam menertibkan kehidupan masyarakat, ada 3 hukum yang diterapkan yakni Buwato Syara, Buwato Bala dan Buwato Adati. Ketiga hukum tersebut memiliki cara masing-masing untuk mengadili individu yang dianggap bersalah.

Buwato syara merupakan hukum dengan berdasarkan nilai-nilai agama Islam, Buwato Bala sesuai hukum pertanahan dan Buwato Adati hukum adat yang dipercaya masyarakat.

Kini Rumah Adat Gorontalo Dulohupa beralih fungsi sebagai tempat pagelaran upacara adat atau kegiatan masyarakat lainnya. Seperti upacara adat pernikahan, pagelaran budaya dan berbagai upacara adat lainnya.

Bangunan khas ini disokong oleh 2 pilar utama bernama Wolihi, 6 tiang lainnya berada di bagian depan. Sama seperti Bantayo, terdapat 32 pilar dasar yang berfungsi untuk menyangga bangunan.

Dilengkapi juga dengan tangga pada bagian sisi kanan dan kiri sebagai simbol adat yang bernama Tolitihu. Bagian atapnya menggunakan material dari jerami yang dianyam sangat rapi terlebih dahulu.

Bentuk atapnya seperti pelana segitiga dengan pelindung bagian atas yang dibangun tidak sembarangan. Bagian atap melambangkan syariat dan adat dari masyarakat Gorontalo sendiri.

Atap dibuat menjulang tinggi sebagai tanda kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Atap lainnya dibuat lebih rendah karena mewakili penggambaran kepercayaan kepada adat istiadat yang berlaku.

Keunikan Dulohupa bisa Anda temukan pada bagian anjungan, bagian tersebut digunakan sebagai tempat istirahat Rajaa di masa lampau. Jika berkunjung ke Gorontalo, coba singgah di Kelurahan Limba, Kecamatan Kota Selatan, Gorontalo.

Secara umum, Rumah Adat Gorontalo banya dipengaruhi kebudayaan Islam. Kondisi tersebut tidak terlepas dari sejarah di masa lampau karena kekuasaan dari kerajaan Islam cukup besar.

RuangGuru

Tinggalkan Balasan