Lebih Baik Hidup Dari Sampah, Daripada Hidup Menjadi Sampah

0
41
Lebih Baik Hidup Dari Sampah, Daripada Hidup Menjadi Sampah

Program bank sampah merupakan sebuah sistem pengelolaan sampah secara kolektif dengan prinsip daur ulang. Metode ini telah terbukti meningkatkan nilai ekonomis dari sampah yang selama ini dinilai sebagai kotoran yang harus dienyahkan sesegera mungkin. Dalam sistem ini masyarakat dapat bertindak sebagai pengurus atau nasabah. Keuntungan yang diterima oleh nasabah bank sampah akan berupa tabungan bernilai rupiah atas seluruh sampah pilahan yang ditabung dalam bank sampah. Dengan sistem sederhana ini tentu bank sampah akan dapat memberi dampak positif bagi lingkungan dan meningkatkan perekonomian dalam lingkup komunitas.

Bank sampah juga tergolong dalam kategori social enterprise. Karena bank sampah menjadi wadah bagi pelaku usaha sosial di Indonesia untuk menggagas, memimpin dan melaksanakan strategi pemecahan masalah sosial secara inovatif melalui kerja sama dalam semua jenis jaringan sosial, serta menjalankan kegiatan usaha yang bernilai sosial di lingkungan masyarakat. Kegiatan ini tidak mungkin dilaksanakan, jika tujuannya hanya profit. Mengelola bank sampah harus dilengkapi oleh misi sosial. Dalam hal ini kebersihan lingkungan dan pemanfaatan sumber daya yang tak dimanfaatkan dengan baik sebelumnya. Sebab, sampah sebetulnya memiliki nilai ekonomi yang sayang kalau dihancurkan atau dimusnahkan. Limbah sampah dapat diolah menjadi energi baru dalam berbagai bentuk. Misalnya, aneka kerajinan tangan atau pupuk kompos.

Semakin berkembangnya bank sampah di Indonesia makin banyak aksi sosial, kesehatan dan lingkungan menggunakan sampah sebagai alat pembayaran yang sah. Dokter Gamal Albinsaid di Malang yang menginisiasi Klinik Asuransi Sampah di mana nasabahnya dapat perawatan kesehatan primer, cek darah standar, obat-obatan hingga konsultasi kesehatan, dengan menyetorkan sampah yang bisa didaur ulang sebagai bentuk pembayaran premi asuransi. Ada inovasi yang juga datang dari Pemerintah Kota Surabaya yang menyediakan transportasi umum bernama Suroboyo Bus. Keistimewaan moda transportasi ini adalah selain mengurangi tingkat kemacetan, juga dapat mengurangi sampah yang tak terkelola, karena pembayarannya dapat menggunakan sampah plastik. Penumpang hanya perlu membayar menggunakan sejumlah wadah plastik air minum dalam  kemasan untuk dapat melakukan perjalanan sesuai tujuan.

Kesuksesan bank sampah diawali oleh inisiasi Bambang Suweda di Bantul, Jawa Tengah sekitar tahun 2008. Semangat baik ini tersebar luas di seluruh Indonesia, yang awalnya satu unit hingga saat ini menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), terdapat 11.566 unit bank sampah yang berada di 363 kabupaten/kota di Indonesia. Angka itu menunjukkan penambahan sekitar 3.500 unit sejak 2016 Rincian dari pencapaian sejauh ini adalah pengurangan sampah di seluruh kabupaten/kota mencapai 13,49 persen dari target 30 persen dan upaya penanganan 42,47 persen dari target 70 persen pada 2025.

Target itu telah ditetapkan di Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 97 Tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional (Jaktranas) Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga.  Bank sampah mendorong upaya pengurangan sampah di sumber dan mengubah cara pandang sampah menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi.

Pemahaman masyarakat di Indonesia tentang pengelolaan sampah sangat perlu untuk ditingkatkan. Perilaku masyarakat di Indonesia cenderung masih saja monoton pada pola kolot kumpul-angkut-buang. Di mana sampah dikumpulkan di TPS, diangkut untuk kemudian dibuang ke TPA. Makin hari kapasitas TPA akan semakin menurun, tentu tak akan bisa diandalkan terus menerus untuk jangka panjang. Apalagi dalam kondisi seluruh jenis sampah yang tercampur tanpa pemilahan.

Ada lagi pola yang lebih tak masuk di akal, polanya yaitu membuang sampah pada TPS liar, seperti lahan kosong, drainase, irigasi, sungai dan bukan tidak mungkin semua itu akan berakhir di laut, menimbulkan pencemaran yang lebih besar dan akan sulit untuk dikontrol. Sebagai pengguna aktif media sosial, kita pasti tak asing dengan video ataupun gambar lautan dipenuhi oleh sampah, hewan-hewan laut mati terdampar, saat tubuhnya membusuk di perut mereka ditemukan banyak sampah plastik. Ada juga video sekitar 6 tahun lalu, ketika seorang ahli biologi laut berusaha mengeluarkan sedotan plastik yang tersangkut di hidung penyu. Darimanakah sumber segala permasalahan sampah yang saat merugikan ini? Tentu dari lalainya kita dalam hal pengelolaan sampah.

Konsentrasi sampah di bumi ini makin hari makin bertambah namun ini tak sejalan dengan laju pengelolaan yang bertanggungjawab. Lantas apa saja yang dapat kita lakukan untuk melakukan pengelolaan sampah yang bertanggungjawab. Tentu tak lepas dari 3R reduce, reuse & recycle. Dan ketiga solusi ini akan menjadi solusi terbaik bila diterapkan secara beriringan. Coba bayangkan bila kita dapat mengurangi penggunaan sampah harian. Sebagai manusia yang berakal harusnya bisa dengan mudah kita menyadari bahwa dunia sekarang tidak sedang baik-baik saja, kabarmu mungkin baik, tapi tidak dengan bumi tempatmu tinggal sekarang.

Kita harus berani melakukan perubahan dalam diri, mengajak orang lain untuk ikut berubah ke jalan baik pula, termasuk dalam hal pengelolaan sampah secara holistik dan komprehensif.

Perubahan sikap masyarakat

Dalam kondisi pandemi Covid-19 seperti sekarang, kebiasaan yang dulu sering dilakukan pra pandemi tiba-tiba berubah saat pandemi terjadi. Semoga perubahan tersebut termasuk perubahan baik dalam hidup kita. Pandemi ini bisa jadi momentum baik bagi kita semua untuk memulai kebiasaan baru, memilah sampah contohnya. Konsep pemilahan sampah bisa dibilang cukup mudah, sedangkan penerapannya yang sulit, untuk konsisten apalagi, tapi tentu bukan berarti tak bisa. Pemilahan sampah sederhana, cukup sediakan dua wadah sampah di rumah, kantor ataupun tempat usaha, pisahkan sampah organik dan non organik. Secara umum sampah organik adalah sampah yang berasal dari makhluk hidup dan dapat dengan sendirinya terurai kembali oleh alam, sedangkan sampah non-organik adalah sampah yang berasal dari bahan hasil olahan manusia.

Banyak sekali alternatif bagi pengelolaan sampah selain membuangnya langsung ke TPS tanpa dipilah. Bisa dengan membuat lubang biopori sendiri di halaman rumah untuk sampah organik, atau membuat wadah penampungan sampah organik yang bisa bisa dijadikan kompos, jenis soft plastik dari sisa-sisa plastik makanan kemasan bisa dijadikan ecobrick atau sampah plastik lain yang telah dipilah di rumah tangga, kantor maupun tempat usaha bisa ditabung di bank sampah.

Penyelesaian masalah sampah tidak bisa mengandalkan petugas kebersihan saja, seluruh elemen masyarakat, pemerintah daerah serta pusat harus bahu membahu dalam mengatasi masalah ini. Salah satunya dalam bentuk sebuah Bank Sampah, di mana sistem ini mengelola sampah dengan menampung, memilah dan mendistribusikan sampah ke fasilitas pengolahan sampah yang lain dalam skala industri yang lebih besar. Sehingga sampah pada TPA dapat berkurang, tak ada TPS liar di sungai, jalan atau juga sampah yang berserakan di sembarang tempat. Lingkungan akan menjadi lebih asri dan sehat untuk seluruh penghuni bumi.

Sumber Artikel:
https://www.investislandsfoundation.org/

Tinggalkan Balasan