Kopi Toraja, Emas Hitam Eksotis di Sulawesi

1
40
kopi toraja

Kopi Toraja dikenal karena rasanya dan keasamannya yang rendah. Terutama Arabika Toraja, sangat diminati oleh Pasar Jepang, Eropa, dan Amerika Serikat. Karakter kopi ini membuatnya cocok untuk berbagai metode pembuatan kopi. Baik itu dibuat untuk kopi Turki atau espresso, rasanya akan istimewa. Sering kali, kopi ini juga digunakan untuk formula campuran spesial untuk membuat hasil akhir yang manis dan berani.

Kopi ini memang salah satu Kopi Indonesia terbaik. Toraja sendiri dapat dicapai dari Makassar dengan 9 jam perjalanan. Ada juga Bandara Pongtiku yang dapat digunakan, sementara pemerintah masih membangun Bandara Internasional Toraja.

Perang Kopi di Sulawesi.

Toraja terletak di utara Makassar. Kopi ini diperkirakan dibawa oleh pedagang Arab di abad ke-17. Itu ditunjukkan oleh cara warga setempat menyebut kopi. Penduduk setempat menyebutnya sebagai kawa, sedangkan orang Arab menyebut kopi sebagai qahwa. Kemiripan ini dianggap sebagai tanda bahwa kopi di Toraja pertama kali berasal dari Pedagang Arab. Kopi dari Ketinggian Toraja sangat diminati sejak saat itu.

Ketika Kopi Toraja menjadi komoditas yang menguntungkan, orang menyebutnya sebagai emas hitam. Ada dua kekuatan yang ingin mengendalikan perdagangan kopi di Toraja. Salah satunya adalah Pedagang Lawu, dari Kerajaan Luwu di Toraja utara. Sedangkan yang lainnya adalah Pedagang Pare-Pare, dari Kerajaan Sindreng di Toraja selatan.

Awalnya, kekuasaan dipegang oleh Kerajaan Luwu, oleh seorang pedagang Arab bernama Said Ali. Tapi kemudian, Kerajaan Sindreng melonjak dengan kekuatan militer. Sejak itu pusat perdagangan berubah dari Palopo menjadi Pare-Pare. Perang Kopi berakhir karena perkebunan kopi di bawah kendali Kerajaan Sindreng.

Dari Kolonial Belanda Menjadi Perusahaan Indonesia

Pada awal 1900, kolonial Belanda mulai memodernisasi kebun kopi. Van Dijk membuka kebun kopinya di Toraja. Kemudian, setelah kemerdekaan Indonesia, pemerintah Indonesia meluncurkan kebijakan nasionalisasi yang mengambil pertanian milik Belanda. Pada tahun 1950, kebun kopi menjadi milik Indonesia.

Tapi, ada pemberontakan yang membuat perdagangan kopi macet. Hanya orang-orang tertentu yang diizinkan melewati blokade yang dipegang oleh separatis. Tapi itu cepat diatasi oleh pasukan Indonesia. Sekarang, lahan bekas pertanian Van Dijk dioperasikan oleh PT Sulotco Jaya Abadi. PT Toarco juga merupakan perusahaan kopi jauh yang beroperasi sebelum kebijakan nasionalisasi. Selain itu, ada juga banyak pertanian yang dikelola oleh orang per orang.

Seluruh Bagian Kopi, Rasa Cokelat, dan Rasa Bumi

Karakter khusus kopi Toraja adalah bagian kopinya yang tebal dan keasaman rendah. Rasanya didominasi oleh cokelat dan catatan bersahaja. Catatan lain yang datang dari Kopi Toraja adalah rempah-rempah, kayu manis, dan berry. Kopi Toraja juga dikenal meninggalkan rasa cokelat hitam setelah diminum. Sedangkan sifat keasaman rendah berasal dari metode pengolahan yang memanfaatkan proses lambung basah. Kompleksitas rasa Kopi Toraja ini menjadi favorit di antara negara Eropa utara seperti Denmark dan Islandia.

1 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan