Kopi, PR Besar Dalam Sektor Perkebunan Sembalun

0
15
kebun kopi sembalun

Hubungan “persahabatan” dengan Gunung Rinjani, membuat Kecamatan Sembalun memiliki kemiripan. Hal itu terlihat dari lanskap alam yang bisa disaksikan di sana. Posisi ini pun membawa keuntungan tersendiri bagi keduanya.

Takdir geografis membuat letak keduanya bertetangga. Sebagian kaki sang Rinjani bahkan ditopang kecamatan dengan 6 desa tersebut. Karena hal itu, Sembalun pun mendapat mandat menjadi salah satu pintu masuk utama jalur pendakian ke Rinjani.

Kemiripan alam dengan Gunung Rinjani tak hanya membuat Sembalun sebagai salah satu tempat indah di Pulau Lombok. Keindahan alam tersebut juga memberikan sebuah keuntungan lain. Salah satunya adalah sektor perkebunan.

Melalui peran alaminya, keberadaan Rinjani memberikan dampak positif secara langsung bagi Sembalun. Aktivitas vulkanik menjadi salah satu faktor yang mendorong kesuburan tanah di kecamatan yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Lombok Timur ini.

Sektor ini pun kian disokong oleh luas dan varian ketinggian wilayah Sembalun sendri. Berada di ketinggian dataran antara 390 – 1180 mdpl, geliat dalam sektor ini tersebar di kawasan seluas 217,08 km².

Pun, secara kepadatan penduduk, Sembalun masih terbilang lengang sejauh ini. Bahkan, dengan luas wilayah seluas itu, jumlah penduduknya belum menyamai Kota Mataram, ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Barat.

50 PERSEN KE MATARAM

Karena potensi tersebut, warga Sembalun pun tak hanya menggantungkan hidupnya pada sektor pariwisata. Tak kalah vital, denyut perekonomian warga juga ada pada sektor perkebunan.

Dari sektor ini, Sembalun menghasilkan hasil alam berupa komoditi hortikultura seperti bawang putih, kentang, wortel, selada, kol, tomat, cabai, hingga stroberi. Komoditi yang dihasilkan pun tak bisa dibilang sedikit.

Berkat komoditi yang dihasilkan melimpah, kecamatan ini memiliki kemampuan untuk berperan sebagai pemasok. Bahkan, hampir 50% pasokan untuk wilayah Kota Mataram, bersumber dari Sembalun.

Alhasil, Sembalun tak hanya tentang pintu masuk, melainkan juga, pada sisi lainnya juga merupakan pintu keluar paling awal. Ya, salah satu pintu tempat keluarnya pasokan sayur-mayur.

Dari beberapa komoditi yang ada, Sembalun sendiri begitu dikenal sebagai sentra bawang putih. Cakupannya tak cuma skala lokal saja, tapi juga secara nasional. Tak ayal, Sembalun juga terpilih sebagai salah satu kawasan guna menyokong program swasembada pemerintah yang ditargetkan pada 2021 lalu.

DI BALIK TIRAI POPULER

Namun, dari beberapa komoditi yang ada, terdapat juga satu hasil alam lain yang sebenarnya turut serta menghiasi sektor perkebunan di Sembalun. Di balik tirai komoditas sayuran dan buah-buahan, kopi adalah satu harta lain yang dimiliki.

Meski terbilang belum sepopuler kopi-kopi dari daerah-daerah lain di Indonesia, kopi dari Kecamatan Sembalun dianggap memiliki daya untuk berkibar. Bahkan, kopi dari kecamatan ini tak boleh terlewatkan dalam daftar para penikmat kopi.

Seiring waktu, kopi dari Sembalun pun mengikuti jejak hasil pertanian dan perkebunan lainnya. Kopi mulai dipandang sebagai komoditas unggulan. Oleh para petani di Sembalun, kopi dilihat sebagai komoditi potensial untuk terus dikembangkan.

Hal ini tentu sejalan dengan status kopi yang berperan penting dalam perekonomian nasional. Secara umum, Indonesia sendiri juga memandang kopi sebagai komoditas unggulan setelah kelapa sawit dan karet.

Adapun, kopi berkontribusi pada produk domestik bruto (PDB) yang mencapai 16,15%. Pun, dalam 10 tahun terakhir, produksi kopi di Indonesia mengalami pertumbuhan 250%, hingga membuat angka produksi berada di peringkat keempat, di bawah Brasil, Vietnam, dan Kolombia.

DORONG POTENSI HASIL PANEN

Berdasarkan data International Coffee Organization, produksi kopi di Indonesia sendiri mencapai 11,95 juta karung berukuran 60 kg pada tahun 2020 lalu. Kendati demikian, angka tersebut diyakini masih bisa bertambah mengingat potensi yang ada.

Melihat hal tersebut, Sembalun, dengan potensi yang ada, turut diproyeksikan untuk mendorong angka produksi kopi nasional. Potensi itu begitu terlihat berkat idealnya alam di kecamatan ini.

Sama halnya dengan perkebunan sayuran, areal perkebunan kopi juga tersebar ke 6 desa di Sembalun. Namun, yang paling populer adalah Kopi Sajang. Sesuai namanya, kopi ini mewakili nama dari salah satu desa di Sembalun, yaitu Desa Sajang.

Tak sekadar menghasilkan kopi, Sembalun pun berinisiatif mengangkat nilainya secara kualitas. Oleh karena itu, Kopi Sajang mampu berbicara melalui keunikannya sendiri, termasuk dari segi cita rasa.

Namun, jika melihat catatan di atas kertas, Sembalun, bahkan secara keseluruhan, produksi kopi di Nusa Tenggara Barat masih kalah jika dibandingkan daerah-daerah lain. Salah satu penyebabnya adalah luasnya lahan tanam yang belum dimanfaatkan.

KENDALA LUAS LAHAN GARAPAN

Sebagai contoh, lahan kopi di Kampung Selagolong yang masuk dalam wilayah Desa Sajang misalnya. Pada tahun 2019, kelompok tani setempat mengungkapkan luas lahan kopi di kampung tersebut seluas 87 hektar.

Lahan tersebut berada di antara hutan kaki Rinjani dengan capaian hasil panen yang mencapai 100 – 140 ton per tahun. Akan tetapi, dari total luas lahan yang ada, hanya sekitar 70% saja yang dapat dikatakan produktif.

Persoalan ini tak hanya dialami Kampung Selagolong saja, lahan kopi di wilayah Sembalun keseluruhan pun tak lepas dari hal serupa. Selain itu, masih ada pula lahan potensial yang sebenarnya bisa ditanami pohon kopi, namun belum dimanfaatkan sama sekali.

Hal ini pun menjadi satu pekerjaan besar yang dihadapi Sembalun. Di samping fokus menjaga kualitas, masalah tersebut berbanding terbalik dengan proyeksi awal Sembalun dalam mendorong kuantitas produksi kopi.

Persoalan ini tentu bisa dilihat sebagai tantangan di dalam Sembalun sendiri. Sebuah tantangan yang mungkin dapat dikatakan sebagai faktor internal. Karena yang jelas, angka jumlah produksi panen erat kaitannya dengan luas lahan garapan.

HARAPAN BESAR MULAI TERBENTUK

Kendati masih diterpa kubangan persoalan tersebut, potensi yang dimiliki Sembalun masih bergelora. Ini didorong berkat daya produktivitas kopi dalam menopang perekonomian warga Sembalun.

Meski produktivitasnya belum sebesar daerah lain, Sembalun tak segan untuk merangsek menyentuh pasar kopi. Tak hanya menyentuh permintaan pasar nasional, kopi Sembalun juga memperluas pasar ke skala ekspor.

Walaupun masih terbilang kewalahan memenuhi permintaan, gelombang optimisme seharusnya turut mengiringi. Terlebih jika melihat geliat pasar kopi memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

Proses untuk merealisasikannya tentu bukan suatu yang mustahil bagi Sembalun. Dengan keuntungan karakter alamnya, memang begitu ideal untuk pertumbuhan kopi berekspansi. Apalagi, kopi yang dihasilkan Sembalun juga sudah dinilai memiliki akar yang cukup secara kualitas.

Selain yang berkaitan dengan kopi, warga pemilik lahan kopi juga turut menyisipkannya ke unsur pariwisata. Pola ini pun bertautan dengan peran sektor pertanian dan perkebunan sebagai aset bagi warga Sembalun di samping sektor pariwisata.

Sama halnya lahan hortikultura Sembalun, sejumlah lahan kebun kopi juga memunculkan daya tarik wisata melalui agrowisata. Tak hanya itu, produktivitas kopi juga dimanfaatkan sejumlah warga untuk membuka kedai-kedai kopi yang berpusat di Sembalun sendiri.