Kesenian di Jawa Timur yang selalu memikat dan wajib dirawat

1
4
reog ponorogo kesenian jawa timur

Indonesia adalah sebuah negara yang terbentang dari sabang hingga merauke. Keindahan alam dan sumber daya alamnya memang membuat banyak orang takjub. Negara yang luas ini juga menyimpan beranekaragam budaya dan bahasa, namun walaupun begitu Indonesia tetap pada tagline nya “Bhineka Tunggal Ika” berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Keberagaman tidak akan mecah belahkan bangsa ini tetapi akan  semakin menjadi pemersatu nusantara. Kali ini kita akan bersama mengulik kesenian Jawa Timur yang selalu membua terpikat. Dari kesenian tarian hingga kesenian yang lain hasil dari kebudayaan Jawa Timur yang sangat memukau.

Reog Ponorogo

Kesenian Reog sendiri merupakan budaya Indonesia yang masih memiliki aura mistis didalamnya. Walaupun demikian kesenian ini tetap menarik hati masyarakat maupun pengunjung luar Ponorogo. Seperti namanya kesenian ini berasal dari Ponorogo yang merupakan kawasan Jawa Timur. Reog sendiri merupakan sebuah topeng besar yang digunakan bersamaan dengan pagelaran layaknya pertunjukan budaya. Topeng Reog ini berbentuk seperti kepala singa Barong dengan dikelilingi bulu merak layaknya kipas.

Sedangkan selama pertunjukan tak hanya topeng singa barong yang menghiasai acara namun, ada Bujang Ganong yang diperankan oleh anak kecil berpakaian merah, lalu ada Jathil atau penari wanita beratribut kuda lumping biasanya berbaju putih. Ada lagi tokoh Warok yaitu penari pria serta tokoh utama.

Jaran Bodhag

Kesenian ini berasal dari Probolinggo. Pada sejarah yang berkembang dimasyarakat. Kesenian diciptakan oleh seorang tokoh bernama Mahah Namengjoyo. Kesenian in masih turuan dari kesenian Jaran Kecak yang setiap pertunjukannya menggunakan kuda asli. Namun berbeda dengan Jaran Bodhag ini yang menggunakan kuda tiruan.

Kuda tiruan tersebut dibuat sedemikian rupa hingga menyerupai layaknya kuda asli. Kuda tiruan ini terbuat dari kayu dan rotan. Kebudayaan ini diwariskan dari zaman dahulu dan masih terjaga hingga saat ini. Pagelaran jaranan ini diiringi dengan musik tradisional Jawa lengkap dengan gamelannya. Sehingga tak jarang pertunjukan ini mengisi acara perkawinan hingga khitanan. 

Tari Gandrung

Kesenian budaya yang satu ini berasal dari kota Banyuwangi. Tari gandrung ini sebagai tarian wujud rasa syukur setelah panen tiba. Makna dari kata Gandrung adalah terpesona masyarakat Blambangan (masyarakat Banyuwangi) terhadap Dewi Sri atau Dewi yang mereka anggap sebagai Dewi Padi atau Dewi yang membawa kemakmuran terhadap hasil panen mereka.

Tarian Gandrung ini dilakukan dengan berpasang-pasangan antara penari perempuan yang biasa dijuluki dnegan ‘gandrung’ dan penari pria yang disebut dengan ‘Paju’. Pada tarian Gandrung sendiri ada beberapa pembagian dalam tariannya. Dimana pembagian tersebut didasarkan pada durasi atau babak dalam pertunjukan dan musik yang megiringi hingga sifat dramatis hingga mistisnya. Tarian Gandrung tersebut dibagi dengan tarian yaitu Jejer Gandrung, Gandrung Dor, Gandrung Marsan, Seblang Subuh, Seblang Lukinto, Gama Gandrung dan Jaripah.

Tarian Gandrung ini diiringi dengan musik khasnya yang berasal dari gamelan Osing. Jika kalian tertarik menyaksikan tarian ini maka hadiri acara mulai dari yang bersifat resmi sampai tidak resmi. Acara tersebut seperti pethik laut, acara peringatan 17 Agustus hingga acara khitanan maupun pernikahan.

Tari Seblag

Kesenian ini berasal dari daerah Banyuwangi, namun desa yang terkenal menggunakan tari inidengan salah satu ritual upacara berbau mistis ada di desa Bakungan dan Desa Olehsari. Tari ini menggambarkan sebuah ritual dua dunia yang penuh dengan kesakralan. Selain itu tarian ini digunakan sebagai bentuk syukur dan bersih desa atau guna menolak bala.

Tarian ini sudah ada sejak zaman nenek moyang yang sudah diturunkan secara turun menurun hingga tidak diketahui pasti bagaimana asal usulnya. Pada ritual seblang terdapat amben atau semacam meja besar untuk menaruh bunga-bunga, hiasan dari janur dan padi, boneka nini towok serta sesajen. Sangat mistis bukan?

Semua persembahan itu memiliki makna tersendiri. Hiasan padi merupakan simbol kesuburan yang harus disyukuri. Dibagian kanan dan kiri amben terdapat tepat untuk pemangku adat. Adapun alat musik yang digunakan dalam tarian seblang ini ada gong (kempul), kendang dan sepasang saron.

Ada sedikit perbedaan Tarian Seblag di desa Bakungan dan Desa Olehsari. Jika di Desa Bakungan penari dilakukan wanita yang telah menopause (wanita paruh baya) dan Ompok atau makhota yang digunakan para penari hampir menyerupai di pertunjukan gandrung namun terbuat dari pelepah pisang dan dihiasai sedikit bunga segar.

Sedangkan di Desa Olehsari tarian ini dilakukan oleh wanita muda belum akil balig atau anak-anak dan ompok yang digunakan terbuat dari pelepah pisang yang disuir-suir hingga menutupi sebagian wajah penari serta ditambah aksesoris bunga dari pemakaman tak lupa kaca kecil ditengah ompok.

Wayang Timplong 

Jika biasanya kita sering menjumpai wayang yang terbuat dengan kulit, maka wayang ini terbbuat dari kayu seperti wayang golek dari sunda. Namun wayang timplong ini hanya oenampakan dari samping tidak tiga dimensi layaknnya wayang golek. Menurut sejarah yang beredar kesenian tradisional ini  dimulai tahun 1910 tepatnya di dusun Kedung Bajul, Desa jetis Nganjuk. Musik pengiring kesenian iini terdiri atas Gamblang, Kempul, kendang dan Ketuk Kenong.

Begitu banyak kebudayaan dan kesenian tradisional di Indonesia. Mari sebagai generasi penerus kita harus menjaga dan melestarikan. Karena demi apapun kesenian ini menjadi bagian dari karakter Bangsa Indonesia.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here