Jakarta Lengang Bikin Senang

0
3
jakarta

Jakarta oh Jakarta, riwayatmu kini…

Saya ingin sekali menyanyikan lirik itu dengan nada yang sama dengan tembang lagu “Bengawan Solo”, ciptaannya mendiang Gesang Martohartono yang dikenal sebagai maestro keroncong Indonesia.

Berbicara soal Jakarta hari ini, tentu pembahasan kita akan terpusat pada rupa kota megapolitan yang tak lepas dengan masalah-masalah. Persoalan yang selalu menarik perhatian, walaupun di baliknya, Jakarta punya keahlian untuk mengundang kedatangan.

Jakarta dengan segala hiruk-pikuknya, masih tetap mempertahankan sebutannya sebagai titik peradaban. Titik ini tidak semerta-merta datang dari statusnya一yang mungkin akan segera terganti一sebagai Ibu kota negara kita, Indonesia. Melainkan datang melalui proses yang sedemikian panjang.

Monas, serta gedung-gedung yang berusaha mencakar langit adalah sampel keniscayaan itu. Bukti fisik yang mengokohkan sebuah kota urban yang dielu-elukan. Riwayat kota dengan ramainya kedatangan pengharapan orang-orang. Menumpangi tempat sehingga kita sulit: di mana ‘pribumi’ Jakarta itu sekarang?

Namun, ada satu titik waktu yang lebih powerfull daripada kekuatan Jakarta dalam mendatangkan orang-orang dari seberang, para perantau dari daerah-daerah lain. Idul fitri selalu sukses menciptakan getar “gempa” kultur tradisi yang memulangkan sesaknya kehidupan ibu kota. Mudik.

Idul Fitri seakan mengotomasi ‘kelumpuhan’ Jakarta (termasuk kota-kota destinasi peraduan nasib lainnya di sudut-sudut Nusantara) yang sarat akan marwah dan ritual-ritual wajibnya selama ini.

Tidak serta-merta mengusir, Hari Raya tersebut justru lebih menempatkan dirinya sebagai wakil dari kebijakan warga, para perantau itu sendiri: “kita harus pulang, berkumpul di kampung halaman masing-masing”. Selayaknya juru selamat yang justru datang dari dalam diri.

Jakarta serta kesemrawutan keluh-kesah di dalamnya itu, boleh jadi malah menunjukkan bagaimana caranya mengatasi benang kusut yang ada lewat kesepakatan kultural bernama: mudik. Seakan tidak perlu lagi mengutip kata para ahli, hasil peneliti, maupun kicauan netizen tentang sinergitas kolaboratif warga dan pemerintah untuk membenahinya.

Saya sendiri punya pengalaman tiap kali ‘bermain’ ke Jakarta. Bukan buruk, cuma tidak baik saja. Tidak hanya ruwetnya lalu lintas, maaf saja, saya juga tidak suka warna langit di sana. Muram karena uap asap. Tapi, itu bukan sepenuhnya salah Jakarta, mungkin sayanya saja yang belum bisa (betah untuk mencoba) beradaptasi.

Pengalaman saya tiap kali di kota itu tentu tidak sebanding dengan orang-orang yang memiliki rutinitas di sana. Rutinitas kemacetan, kota yang disebut “24 jam tak pernah mati”. Maafkan kalau apa yang saya tulis ini tidak pantas karena saya tidak memiliki “kedekatan” personal dengan Jakarta.

Trend mudik lebaran adalah pola bentuk sebuah ledakan kultural. Dan, realitas ini seakan mendorong Jakarta dan kota-kota lain yang punya kepekatan yang mirip, menjadi lengang. Setidaknya, lumayan lengang sepeninggal warga yang memanfaatkan libur dari agenda-agenda rutinnya.

Lalu, kenapa para perantau di setiap spot rantauan ini mau repot-repot mudik? Keluar sementara dari semua hiruk-pikuk itu lewat hari libur, kemudian ‘terpaksa’ kembali lagi oleh jadwal kerja, kuliah, ataupun urusan-urusan kehidupan lainnya? Break sebentar, lalu balik lagi bergulat dengan keluhan-keluhan yang sebenarnya bikin males.

Salah satu masalah klasik Jakarta sampai hari ini adalah kemacetan. Bahkan, persoalan ini mampu menjaring perhatian internasional. Ya, masalah ini bahkan sudah belenggu yang pelan-pelan dianggap sebagai bentuk kewajaran. Banyak orang sudah mulai pasrah untuk menyebut penyelesaian itu adalah hal yang begitu utopis.

Sementara, arus mudik yang kesekian kalinya sudah terjadi justru menjadi titik sampel kecil bagaimana mengatasi masalah. Seolah menjadi oase, musim mudik berperan mengentaskan pekatnya suatu kota. Orang-orang yang menyumbang hiruk-pikuknya sementara pulang kembali ke tempat asal masing-masing, sumber datangnya ‘bencana’ itu berasal.

Pada musim mudik kemarin, ada sekitar 3,7 juta orang mudik dari kawasan Jabodetabek, menyebar ke wilayah Jawa Barat, menurut data Kementerian Perhubungan. Angka tersebut belum termasuk dengan total jumlah―perkiraan 30,2 juta jiwa penduduk dari luar Jakarta―yang mudik dari Jabodetabek ke segala penjuru Nusantara.

Kita bisa bayangkan kalau angka tersebut murni merupakan pendistribusian warga ke segala penjuru daerah, walaupun masih bersifat temporer. Atau bayangkan juga pemudik itu memilih menetap dan tidak lagi kembali, misalnya. Sirkulasi sementara itu bisa saja jadi permanen.

Bagaimana ritual klasik bernama mudik ini mampu menjadi sumber inspirasi? Mari menengok Jakarta ketika arus mudik berlangsung. Sepi, lengang, seolah titik peradaban metropolis itu lenyap serasa terkena jentikan jari Thanos, si musuh besar para Avengers.

Arus mudik merupakan cerminan kekompakan warga sehingga merubah wajah Jakarta menjadi kota yang hampir mati. Yogyakarta pun hampir serupa, menjadi daerah yang juga disesaki oleh para mahasiswa rantau ini, trend mudik lebaran setidaknya turut memberi dampak yang nampak mirip.

Saya, selaku mahasiswa rantau di Yogyakarta yang tidak mudik lebaran tahun ini, semacam melihat sebuah spot yang sedikit berubah wajah. Lebih lengang dari biasanya, dan lumpuh di beberapa titik. Pun demikian, saya harus mengakui bahwa saya kurang nyaman karena akses kebutuhan jadi sedikit mengalami kelangkaan.

Melihat suasana itu, secara umum bikin Yogyakarta terlihat berbeda dan tidak sedang meniru chaos dan crowded-nya Jakarta sehari-hari. Ya, sementara memang. Tapi, beginilah anomali yang diwajarkan itu ‘menginspirasi’ keberangkatannya sebuah opsi permanen: bagaimana mempermanenkan celah temporer tersebut.

Tren mudik menampakkan kesepakatan massal orang-orang. Pulang, walaupun kita tahu bahwa opsi tersebut juga punya dua biji momok: macet dan sengitnya perburuan tiket. Setelah itu, kembali berjamaah berpartisipasi dalam ritual bernama arus balik dengan konsekuensi yang mirip-mirip.

Lalu, kenapa kita mau repot dengan tradisi ini? Padahal, memilih mudik juga rentan terjebak macet ditambah lagi dengan urusan ketersediaan dan nominal harga tiket. Ya, kerinduan adalah sanggahan yang paling mentok. Tapi, mudik adalah kesempatan yang tiba karena hari libur, masa cuti, waktu senggang, sampai kebanyakan uang yang entah mau dihabiskan kemana.

H+2 lebaran lalu, Jakarta (lagi-lagi) dikabarkan lengang. Warga yang bukan pemudik, terpantau berbondong-bondong menikmati lengangnya Jakarta dengan menaiki bus Wisata. Ini mungkin salah satu atraksi wisata yang bakal tersedia ketika wajah sebuah kota tidak sedang berada dalam ketidakwajarannya.

Pantauan ini juga menemukan penampakan antre panjang. Orang-orang yang ingin menaiki bus wisata gratis itu rela membentuk barisan. Antriannya sendiri merupakan arus kemacetan yang datang dari prosedur administratif, terlepas antrean yang dilakukan itu dengan atau tanpa kendaraan pribadi.

Kapan lagi kita bisa menikmati lengang yang sementara itu? Mana gratis pula. Hmmm… Kesepian Jakarta, kesenangan bersama—paling tidak, ya bagi segelintir orang. Mudik bisa membebaskannya sementara, namun hal itu bisa berubah permanen apabila Mudik tak lagi disusul arus balik. Simpel.

Nyatanya, mudik massal bisa melegakan Jakarta, melepaskan pekatnya asap dan hiruk-pikuk warganya. Selama mudik tetap kompak dilekatkan pada momentum Hari Raya, cuti dan libur massal, kesenangan akan lengangnya Jakarta pasti rutin kembali lagi.

Arus mudik perlu dilihat sebagai arus perjalanan orang-orang keluar Jakarta, sekaligus sebagai arus yang sebenarnya bisa menghantam apa yang dianggap utopia selama ini. Sebuah tradisi yang mungkin selama ini tidak kita sadari, mampu menepikan superioritas Jakarta dengan segala kepadatan di dalamnya.

Mudik adalah sebuah cara. Di balik makna rindu kampung halaman, mudik adalah kesepakatan untuk sejenak menepikan Jakarta. Seperti Bali yang merayakan Hari Raya Nyepi, misalnya.

Dari sini, saya jadi teringat (dan ingin sekali mengafirmasi apabila benar-benar bukan utopia semata) sebuah cuitan dari salah satu akun twitter @nirmalajati yang menulis: “Ingin hidup di Jogja, suasana Bandung, biaya hidup Solo, gaji Jakarta.” Apakah Jakarta itu tempat kepulangan, atau lebih cenderung sebagai destinasi bepergian? Jika Jakarta terus sesak dengan keluh-kesah, berbesar hatilah untuk pergi meninggalkan.

Tinggalkan Balasan