Biografi Pahlawan Kemiliteran: Jenderal TNI Gatot Subroto

0
12
gatot subroto

Bangsa besar yakni sebuah bangsa yang senantiasa menghargai jasa-jasa para pahlawan. Tanpa perjuangan dan pengorbanan para pahlawan, maka kemerdekaan akan menjadi hal yang jauh dari kenyataan. Oleh karena itu, banyak jalan yang menyematkan nama pahlawan, termasuk Gatot Subroto.

Uniknya, nama pahlawan ‘gendeng’ ini digunakan sebagai nama jalan di berbagai daerah. Mulai dari Jakarta, Bandung, Denpasar, Medan, Banjarmasin, Cilacap, Bandar Lampung, Pekanbaru, hingga Solo. Dapat dikatakan, namanya harum mulai dari kota metropolitan hingga pelosok negeri. 

Biografi Lengkap Gatot Subroto

Menilik fakta beberapa jalan di atas, tentu hal tersebut tak dapat terlepas dari kiprahnya sebagai pejuang nusantara. Lantas, siapa dan hal besar apa yang sudah dilakukan oleh sesosok Gatot Subroto? Simak ulasan selengkapnya melalui ringkasan profil berikut ini:

1. Profil

Tahun 1909, seorang bayi laki-laki terlahir di daerah Banyumas tepat pada hari Minggu tanggal 10 Oktober. Sang ayah yang bernama Sayid Yudoyuwono menyematkan nama Gatot Soebroto untuk jagoan tersebut. Sesuai harapan, Gatot pun tumbuh menjadi seorang jagoan bangsa.

2. Pendidikan

Gatot memang bukan berasal dari keluarga yang sangat terpandang. Oleh karena itu, dapat bersekolah di ELS atau Europe Lagere School merupakan sebuah anugerah tersendiri. Mungkin tanpa bantuan Bupati Banyumas, ia tidak akan pernah bisa memasuki sekolah dasar yang dikhususkan untuk anak Belanda tersebut.

Setelah keluar dari ELS, Gatot Subroto hijrah dari Banyumas ke Cilacap untuk melanjutkan sekolah di Hollandsch Inlandsche School atau HIS. Langkah ini terpaksa ia tempuh, karena Gatot tak dapat melanjutkan sekolah di daerah Banyumas akibat perbuatannya.

3. Karakter dan Kemiliteran

Sejak kecil Gatot sudah menunjukkan karakter kuat, yakni seseorang yang berjiwa keras, pemberani, dan berpendirian teguh. Hal ini juga yang memicu perkelahiannya dengan seorang anak Belanda di ELS, sehingga ia harus dikeluarkan dari sekolah.

Keputusannya untuk tidak menempuh sekolah lanjutan dan menjadi seorang pegawai pun mengalami jalan buntu. Gatot merasa pekerjaan tersebut kurang menantang dan tidak cocok dengan karakter kejiwaannya. Oleh karena itu, ia pun memanfaatkan kesempatan untuk sekolah kemiliteran di Cader School, Magelang.

4. Kepemimpinan

Julukan unik yang dimiliki oleh seorang Gatot Soebroto adalah pahlawan tiga generasi. Hal ini dikarenakan kiprahnya dalam membela negara yang dilakukan Gatot secara totalitas. Ia pernah bergabung dengan KNIL atau Tentara Hindia Belanda, PETA atau Pembela Tanah Air, serta TKR atau Tentara Keamanan Rakyat.

Karier Gatot dalam kemiliteran pun tak bisa dipandang sebelah mata begitu saja. Meski ia bertindak sebagai tentara Belanda (KNIL) dengan peraturan keras, Gatot tetap berusaha membela bangsa. Salah satunya dengan membantu para keluarga dari orang-orang yang tertangkap oleh Belanda.

Sementara sebagai Tentara Keamanan Rakyat, Gatot mengemban beberapa jabatan penting. Beberapa di antaranya, yakni Panglima Korps Polisi Militer, Panglima Divisi II, serta Gubernur Militer. Pada masa kepemimpinan Presiden Soekarno, Gatot ditunjuk sebagai Panglima Tentara dan Teritorium IV Diponegoro.

Puncak karier Gatot Subroto terjadi pada 1956, yaitu saat ia ditunjuk sebagai Wakil Kepala Staff Angkatan Darat atau Wakasad. Sifat tegas dan berwibawanya terasa semakin menonjol berkat perhatian Gatot yang sangat besar kepada perwira muda.

Saking besarnya, Gatot membuat gagasan untuk membentuk akademi militer yang dapat mempersatukan Angkatan Darat, Laut, serta Udara. Hal tersebut diwujudkan dengan membangun Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia atau AKABRI di tahun 1965.

Pahlawan kemiliteran ini tutup usia pada tahun 1962 dan dimakamkan di daerah Ungaran. Tepat satu minggu setelah mangkat, ia mendapat gelar sebagai Pahlawan Nasional Indonesia dan dikenal sebagai Jenderal TNI Gatot Subroto.

Semoga ulasan di atas dapat menambah wawasan para pembaca budiman.

RuangGuru

Tinggalkan Balasan