Basa-Basi Orang Jawa

0
39
basa basi orang jawa

Terlahir dari keturunan serba Jawa, saya sendiri harus berani menyimpulkan bahwa setiap hari yang dilakukan mereka adalah berbasa-basi. Saya asli Jawa mulai buyut, kakek-nenek, bapak-ibu dan saudara lainnya, sehingga tahu betul basa-basinya orang Jawa. Menurut tata krama Jawa sendiri, basa-basi merupakan wujud sopan-santun yang perlu dimiliki setiap orang. Kita dalam melakukan sesuatu tidak boleh langsung to the point, tapi harus melakukan tahap-tahap yang perlu dilewati.

Dianalogikan seperti membuat rumah. Sebelumnya kita perlu menyiapkan segala kebutuhan seperti genteng, kayu, batu bata, pasir, semen aduk, kramik dan lain sebagainya. Begitu juga dalam aturan Jawa, jika ingin meminjam sesuatu tidak harus langsung bilang “pinjam”, tapi ada tahap bahasa Jawanya kulonuwun atau uluk salam yang dihaturkan kepada yang bersangkutan, misalnya:

Salam dan Sapaan

“Kulonuwun, pak” (Permisi pak)

“Nopo arite jenengan kangge? Nek menawi boten kangge kulo ajeng ngampil riyen.” (apakah sabit Anda dipakai? Kalau tidak dipakai, saya ingin meminjamnya dahulu)

Padahal sebenarnya kita sudah tahu kalau sabit yang bapak punya tidak terkapai, tapi untuk basa-basi tersebut, kita harus mengungkapkan pertanyaan yang remeh-temeh dan tidak perlu jawaban. Sebenarnya bapak pun sudah tahu jika kita ingin meminjam sabit. Tapi ia sudah menyadari harus ada basa-basi untuk mendengarkan pertanyaan dari kita.

Hal ini terkesan membuang-buang obrolan dan waktu saja, tetapi di Jawa menjadi budaya yang harus dijaga dan dilestarikan. Justru apabila apa adanya dan terus-terang menyatakan ingin meminjam, belum tentu bapak meminjami. Bapak tersebut beranggapan bahwa kita tidak memiliki etika yang baik.

Basa basi dalam Bertamu

Selain itu ada lagi basa-basi yang sering dialami siapa saja ingin bertamu di rumah. Awalnya saat tuan rumah menawari makan selalu bilang sudah. Dan penawaran itupun terjadi berkali-kali hingga kedengarannya semakin membosankan.

Tetapi setelah tuan rumah mengeluarkan nasi beserta lauk pauk di meja makan dan mengambilkan nasi di piring, tamu pun memakannya. Padahal di awal bilangnya sudah makan, tapi buktinya tetap dimakan juga. Seharusnya kan kalau sudah makan berarti tidak makan lagi, tapi ini tetap dimakan. Cerita tersebut awalnya seperti ini:

Ada teman dua orang dari luar kota datang ke rumah. Saya sebagai tuan rumah tentu fokus mengajak ngobrol mereka. Kemudian ibu datang dan menyuruh mereka makan. Mereka bilang kalau sudah makan.

“Monggo mas madang riyen.” (Mari mas makan dulu)

“Nggeh buk, sampun” (Iya buk, sudah)

Saya pun kembali mempertegas ajakan ibu, yakni dengan menawari mereka ke beberapa kalinya. Bahkan hampir menggunakan diksi seakan-akan memaksa mereka untuk makan. Mereka tetap saja menolak, katanya sudah makan. Setelah itu selang sepuluh menit, ibu dari dapur membawakan nasi beserta lauk pauk ke meja depan yang ada kita semua. Tanpa menunggu waktu lama, akhirnya mereka makan nasi yang telah ibu persiapkan untuknya.

Begitulah orang Jawa, hanya ingin mempersilahkan tamu untuk makan saja harus dipaksa beberapa kali. Bukannya lebih enak jika semisal ada tawaran makan langsung bilang “Iya saya mau makan” gitu, kemudian saya ke belakang mengambil nasi dan lauk pauknya. Jadikan semakin baik, tidak ada yang ditutup-tutupi kalau sebenarnya tamu juga lapar, tetapi ingin mengungkapkan terus-terang ada jiwa alam sadar yang mengatakan “jangan, kamu ini di rumah orang. Jangan malu-maluin” gitu?

Tetapi begitulah budaya Jawa. Tentu harus tetap dihormati dan dihargai. Sebab sejauh ini, orang Jawa terkenal dengan sopan santun, tata krama, budi luhur dan hormat dalam segala hal. Semuanya yang ada dikehidupan sehari-hari harus ada tata kramanya sendiri. Sehingga, kita tidak semena-mena dalam berperilaku.

Baik buruknya seseorang dinilai dari budi pekertinya bukan harta atau ilmunya. Hal utama yang harus dimiliki orang Jawa adalah tingkah laku. Setinggi apapun jabatan, sekaya apapun orangnya apabila tidak memiliki tata krama maka ia bukan mencirikan orang Jawa.

Tinggalkan Balasan